Kezia Pujianti Parlan
Rote-Ndao
Selamat Membaca...!!!
Kondisi dan Jenis Belajar Menurut Van
Parreren
Adapun
bentuk-bentuk sebagaimana dikembangkan oleh Van Parreren, secara lengkap,
adalah sebagai berikut:
1.
Membentuk otomatisme
Bentuk
belajar ini terutama meliputi belajar keterampilan motorik, tetapi dapat juga
meliputi belajar kognitif. Ciri khas kemampuan yang diperoleh, terletak dalam
otomatisasi sejumlah rangkaian gerak-gerik yang terkoordinir satu
sama lain. Keuntungan dari kemampuan yang sudah menjadi otomatisme orang itu
akan bisa mencurahkan perhatian pada aktivitas lain, misalnya menyusun karangan
sambil mengetik. Kelemahan dari pada otomatisme adalah keterampilan baik
motorik atau hafalan menjadi kaku dan tidak fleksibel. Ada fase-fase
yang harus dilalui dalam membentuk otomatisme yaitu, fase kognitif yang artinya
orang mengetahui macam-macam hal mengenai keterampilan, fase latihan adalah
orang akan berlatih untuk “mendarah dagingkan” keterampilan itu. Dan fase
otomatisme dimana seluruh rangkaian gerak-gerik telah berlangsung dengan
lancar.
2.
Belajar insidental
Belajar
sesuatu tanpa mempunyai intensi atau maksud untuk mempelajari hal itu,
khususnya yang bersifat pengetahuan fakta atau data. Telah ditekankan oleh De
Corte, siswa disekolah juga bisa mengalami belajar semacam itu, tanpa
direncanakan oleh guru, namun hasilnya sebagai efek sampingan pada belajar lain
dapat menguntungkan maupun menghambat bagi perkembangan siswa.
3.
Menghafal
Orang
menanamkan suatu materi verbal didalam ingatan, sehingga nanti dapat diproduksi
secara harfiah sesuai dengan yang asli. Ciri khas dari hasil belajar yang
diperoleh ialah reproduksi secara harfiah dan adanya skema kognitif. Pada waktu
reproduksi harafiah ternyata skema berperan sebagai tape videokaset yang hanya
dapat diputar dari depan ke belakang untuk bisa mendapat gambar yang jelas
gejala ini menunjuk otomatisme pada prestasi hafalan. Skema kognitif menjadi
syarat utama bagi keberhasilan menghafal. Namun ada syarat lain yang harus
dipenuhi yaitu mengulang-ulang kembali materi hafalan, sampai tertanam
sungguh-sungguh dalam ingatan (overlearning), lebih-lebih pada materi yang
tidak mengandung struktur yang jelas.
4.
Belajar pengetahuan
Bentuk
belajar ini adalah orang mulai mengetahui berbagai macam data mengenai
kejadian, keadaan, benda-benda dan orang. Ciri khas dari hasil belajar yang
diperoleh ialah orang dapat merumuskan kembali pengetahuan yang dimiliki dengan
kata-kata sendiri, tidak perlu dirumuskan dalam bentuk aslinya. Van Parreren
membedakan antara pengetahuan yang fungsional dengan pengetahuan yang tersedia
saja, lebih-lebih bila pengetahuan itu menyangkut fakta yang diketahui dari
mempelajari dua bidang studi yang berlainan. Pembedaan itu hanya berkaitan
dengan cara informasi disimpan dalam ingatan.
5.
Belajar arti kata-kata
Bentuk
belajar ini adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata
yang digunakan. Perlu disadari bahwa suatu pengertian (konsep) dapat
diperoleh lebih dahulu, kemudian diberi nama berupa kata.
6.
Belajar konsep (pengertian)
Dalam
proses belajar ini orang mangadakan abstraksi, yaitu dalam obyek-obyek yang
meliputi benda, kejadian dan orang, hanya ditinjau dari aspek-aspek tertentu
saja. Obyek tidak ditinjau obyek detailnya tetapi aspek-aspek tertentu seolah diangkat
dan disendirikan. Misalnya pada bunga flamboyan, kembang sepatu, bunga anggrek,
bungan mawar, ditemukan sejumlah ciri yaitu “mekar, bertangkai, berbenang sari,
dan berputik”. Semua ciri ditangkap dalam pengertian bunga dan dilambangkan
dalam dalam bunga. Maka, pengartian/konsep adalah suatu arti yang mewakili
sejumlah obyek yang memiliki ciri-ciri yang sama. Ciri khas dari konsep yang
diperoleh sebagai hasil belajar pengertian ini ialah adanya skema konseptual.
Skema konseptual ialah suatu keseluruhan kognitif yang mencakup semua ciri khas
yang terkandung dalam suatu pengertian.
7.
Belajar memecahkan problem melaluli pengamatan
Dalam
belajar ini, orang dihadapkan pada problem yang harus dipecahkan dengan
mengamati baik-baik. Pemecahan problem merupakan tujuan ysng harus dicapai,
tetapi tindakan yang harus diambil supaya problem terpecahkan belum diketahui.
Tindakan itu masih harus ditemukan, dengan mengadakan pengamatan yang teliti
dan reorganisasi terhadap unsure-unsur di dalam problem. Dari reorganisasi
melalui perubahan dalam pengamatan, lahirlah suatu pemahaman yang membawa ke
pemecahan problem.
8.
Belajar berpikir
Dalam
belajar ini, orang juga dihadapkan pada suatu problem yang harus dipecahkan,
namun tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan. Problem harus
dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah
serta metode-metode bekerja tertentu.
9.
Belajar untuk belajar
Arti
bentuk belajar ini lebih luas dari pada bentuk-bentuk belajar yang dibahas
sampai sekarang dan mencakup banyak unsur dari bentuk-bentuk itu. Bentuk
belajar ini paling tampak jelas dalam belajar di sekolah, bila diamati
perbedaan antara siswa-siswa dalam kemajuan belajar. Seringkali ternyata, bahwa
siswa-siswa tertentu pad umumnya belajar lebih cepat serta lebih maju. Dengan
demikian perbedaan taraf inteligensi antara siswa dijadikan satu-satunya alasan
untuk menjelaskan perbedaan dalam hal kemajuan belajar. Biasanya siswa itu
belajar secara sistematik dan tidak bekerja secara impulsive, misalnya setelah
membaca kata-kata pertama dari suatu pertnyaan kemudian siswa mulai langsung
menjawab tanpa membaca bagian lain namun setelah hasil diperoleh siswa itu
melakukan refleksi bila hasilnya ternyata tidak sesuai atau tidak tepat maka
diadakan analisa terhadap kesalahan yang telah dibuat supaya lain kali tidak
terulang lagi.
10. Belajar dinamik
Bentuk
belajar ini bersifat sangat kompleks, karena menyangkut lahirnya sumber-sumber
energi psikis, yang seolah-olah merupakan bahan bakar yang memberikan kekuatan
dan dorongan kepada orang untuk melakukan berbagai aktivitas diantaranya
kegiatan belajar, sumber-sumber energi psikis adalah kemauan, sikap, motiv dan
perasaan. Didalam belajar dinamik, dibentuk kemauan sikap, motif, dan modalitas
perasaan, yang semuanya mengambil bagian dalam pembentukan karakter. Dalam
belajar ini berperanlah unsure-unsur dari belajar kognitif dan belajar
nonkognitif yang sulit ditunjukkan satu persatu. Kompleksitas belajar ini
bertambah rumit, karena semua hasil belajar itu sebagian besar diperoleh
bergaul dengan orang lain.
Kondisi Belajar Menurut Robert Gagne
Lima
variasi belajar yang dikemukakan Gagne adalah informasi verbal, keterampilan
intelektual, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Kelima variasi
belajar ini merepresentasikan hasil belajar yang merupakan kapabilitas.
1)
Informasi Verbal
Informasi
verbal dimulai sejak masa kanak-kanak awal ketika bayi mulai belajar nama-nama
objek, hewan, dan peristiwa. Berlanjut disepanjang hayat saat mereka belajar
tentang dunia sekitar. Karakteristik esensial dari informasi verbal yaitu dapat
ditulis atau dikatakan (diverbalkan), dan beberapa kata dari informasi verbal
memiliki makna bagi individual. Informasi verbal mengacu pada memilih teks yang
terkoneksi secara bermakna, dan mengorganisasikan bagian-bagian informasi.
Hasil dari informasi verbal adalah menyatakan informasi.
2)
Keterampilan Intelektual
Yang
termasuk dalam keterampilan intelektual adalah membedakan, mengombinasikan,
menabulasikan, mengklasifikasikan, mengaalisis, dan mengkuantifikasikan objek,
kejadian, dan simbol-simbol lain. Contohnya, menerjemahkan ton menjadi
kilogram. Yang juga termasuk dalam keterampilan intelektual adalah aplikasi
kaidah yang mengatur aktivitas bicara, menulis dan membaca, dan dalam matematika
biasanya menggunakan aturan perhitungan dan memecahkan masalah soal cerita.
Keterampilan intelektual sering dijumpai dalam beberapa jenis pekerjaan mulai
dari perawat hingga programer komputer. Ketermapilan ini merupakan kapabilitas
yang membuat manusia berfungsi secara kompeten dalam masyarakat.
Contohnya,
mengidentifikasi berbagai bentuk segitiga dari segitiga yang tinggi sampai yang
lebar. Belajar kaidah atau aturan, merupakan merespon satu kelompok situasi
dengan kelompok kinerja yang berkaitan. Contohnya, menjawab 5 x (2 + 3) dengan
menjumlahkan (5 x 2) + (5 x 3). Belajar pemecahan masalah, merupakan memecahkan
masalah dengan mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya.
Contohnya, untuk mencari FPB dari 15 dan 30 harus mengetahui dan mengaplikasikan
pemfaktoran atau faktorisasi prima dari 15 dan 30.
3)
Strategi Kognitif
Keterampilan
Intelektual membentuk struktur dasar untuk belajar. Setelah siswa berhasil
dalam belajar informasi verbal dan keterampilan intelektual, siswa akan mulai
mengembangkan cara untuk mengatur sendiri proses mental mereka yang
diasosiasikan dengan belajar. Secara spesifik, strategi kognitif merupakan
belajar bagaimana cara belajar, cara mengingat, dan cara menjalankan pemikiran
reflektif dan analitis yang dapat melahirkan lebih banyak kegiatan belajar
lagi.
Strategi
kognitif juga membantu individu untuk mengelola pemikiran mereka dengan
membantu mereka menentukan kapan dan bagaimana menggunakan informasi verbal dan
keterampilan intelektual. Arti penting dari startegi kognif diilustrasikan
dalam riset tenntang siswa yang lemah pada salah satu mata pelajaran. Siswa ini
secara khusus membutuhkan latihan strategi yang intensif. Siswa dengan prestasi
rendah cenderung menggunakan memorisasi tanpa pendalaman dan strategi yang
tidak efisien lainnya. Mereka gagal mengorganisasikan belajar mereka dan
cenderung melewati materi yang tidak dimengerti.
4)
Keterampilan Motorik
Pada
tingkatan tertentu semua kinerja adalah motorik atau gerakan karena membutuhkan
beberapa jenis tindakan. Siswa munggik menggunakan tangan dan jarinya untuk
menggunakan pensil sehingga dia dapat menulis jawaban soal 5 x 8. Akan tetapi
tindakan ini adalah demonstaris keterampilan intelektual, bukan keterampilan
motorik. Karena keterampilan motorik tidak dapat ditentukan dengan sekedar
mengamati beberapa kinerja gerak yang nyata.
Dalam
belajar keterampilan motorik ada tiga fase yaitu belajar tahap-tahap gerakan
dalam keterampilan dan pelaksanaan rutin, menyesuaikan bagian-bagian dari
keterampilan secara keseluruhan melalui latihan, dan memperbaiki pengaturan
waktu dan kelancaran kinerja melalui latihan terus menerus. Fase ini secara
otomatis akan menimbulkan keterampilan, sehingga ia dapat menentukan tindakan
yang mungkin dapat mengganggu. Ketika belajar keterampilan telah selesai,
seseorang mampu untuk merespon isyarat kinestetik yang menandai perbedaan
antara tindakan yang tepat dilakukan dan yang bebas dari kesalahan.
5)
Sikap
Sikap
adalah keadaan yang memengaruhi atau mengatur perilaku namun tidak secara
langsung menentukan tindakan. Sikap hanya menyebabkan kemungkinan dilakukannya
suatu tindakan. Memberitahu siswa tentang apa yang akan mereka pelajari dapat
merupakan aspek efektif dalam pembelajaran tertentu. Namun upaya untuk
membangun sikap dengan ajakan logis atau emosional yang persuasif tidaklah
efektif. Contohnya, membaca pesan tertulis seperti “Jauhi Narkoba!” tidak akan
memengaruhi sikap pemelajar.
Sikap
pada umumnya dideskripsikan terdiri dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif,
dan behavioral. Kognitif yaitu yang mengekspresikan kaitan seperti
“bertambahnya jumlah penduduk meningkatkan jumlah penangguran di Indonesia”.
Aspek kedua yaitu afektif adalah perasaan yang mengiringi keyakinan kognitif.
Aspek behavioral berkaitan dengan kesiapan untuk bertindak.
Untuk
dapat memperoleh dan menguasai kelima kategori kapabilitas tersebut dengan
sebaik-baiknya ada sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan oleh para pendidik.
Ada kondisi belajar internal, yang timbul dari memori peserta didik sebagai
hasil dari belajar sebelumnya, dan ada sejumlah kondisi eksternal ditinjau dari
peserta didik. Kondisi eksternal ini bila diatur dan dikelola dengan baik
merupakan usaha untuk membelajarkan. Misalnya pemanfaatan berbagai media dan
sumber belajar.
Kondisi Belajar Menurut De Blok
A. Bentuk belajar menurut fungsi psikis
a.
Belajar Dinamik
Bentuk
belajar ini mempunyai ciri khas bahwa dalam belajar terdapat suatu
kehendak, sehingga tidak menyebabkan seseorang mudah menyerah dan tidak
menghendaki semua hal. Berkehendak merupakan aktivitas psikis yang terarah pada
pemenuhan kebutuhan yang disadari dan dihayati. Secara umum kebutuhan terbagi
dua macam, yaitu kebiuhan biologis, dan kebutuhan psikologis. Kesadaran
terhadap adanya kebutuhan mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu
agar terpenuhi kebutuhannya. Perkembangan zaman telah mengantarkan manusia
pada era globalisasi, dimana kebutuhan manusia tidak sebatas pada dapat
terpenuhinya kebutuhan biologis dan psikologis, melainkan dengan apa kebutuhan
tersebut terpenuhi. Lebih dari itu kerap dijumpai adanya dua kebutuhan atau
lebih yang menuntut harus segera terpenuhi. Tentu saja dalam situasi seperti
ini dibutuhkan suatu penilaian yang sungguh terhadap masing – masing kebutuhan,
sehingga dapat memutuskan kebutuhan mana yang mendesak utuk dipenuhi, ditunda
pemenuhannya, bahkan dikorbankan.
b.
Belajar afektif
Ciri
khas belajar afektif adalah belajar untuk menghaati nilai – nilai dari obyek
yang dihadapi melalui alam perasaan, dabn belajar mengungkapkan
perasaan dalam bentuk ekspersei yang wajar. Obyek yang dinilai tidak sebatas
pada manusia, namun dapat berupa feneomena atau kejadian. Dalam
belajar afektif ini seseorang akan menghayati sungguh – sungguh suatu obyek,
apakah obyek tersebut bernilai bagi dirinya atau tidak. Hasil penilaian ini
akan kembalai pada perasaan individu, artinya jika obyek dinilai sebagai
sesuatu yang bernilai makakan menimbulkan perasaan senang dan sebaliknya
jika obyek dianggap / dinilai sebagai sesuatu yang kurang / tidak bernilai akan
menimbulkan perasaan kurang senang pada diri penilai. Perasan senag meliputi
sejumlah rasa yang lebih spesifik, seperti rasa puas, gembira, rasa simpati
,rasa saying dan sebagainya. Perasaan tidak senang meliputi takut, gelisah,
cemas, marah, cemburu.
Fungsi
afektif dan dinamik berkaitan satu dengan yang lain., sebab setiap kehendak dan
kemauan disertai perasaan dan setiap perasaan mengandung dorongan untuk
berkehendak dan berkemauan. Setiap peserta didik wajib mendapatkan ranah
belajar afektif agar dapat mengungkapkan perasaan dalam ekspresi yang wajar dan
diterima oleh masyarakat. Dalam wadah pendidikan diharapkan ranah ini mmapu
menumbuhkembangkan sehingga alam perasaan peserta didik menjadi kaya dan luas.
c.
Belajar kognitif
Ciri
khas ranah belajar kognitif terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan
bentuk – bentuk representasi yang mewakili obyek – obyek yang dihadapi. Obyek
tersebut direpresentasikan atau dihadirkan dalam dri seseorang melalui
tanggapan, gagasan atau lambang yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat
mental. Kemampuan kognitif ini harus dikembangkan melalui belajar. Kemampuan
bahasa sangat membantu kemajuan kognitif, sebab berfungsi dalam upaya
mengungkapkan gagasann dan pikiran .
d.
Belajar sensi – motorik
Ranah
belajar sensi – mtotorik mempunai ciri khas yang terletak dalam belajar
menghadapi dan menganagi obyek – obyek secara fisik, termasuk kejasmanian
manusia sendiri. Menurut Piaget, belajar sensi – motorik merupakan dasar bagi
belajar berpikir. Mengamati obyek dan memeganag serta menganai benda, mendasari
perkembangan berpikir. Dalamberpikir orang “ mempermainkan ” realita lingkungan
hidupnya dalam bentuk representative. Tanpa pengamatan yang cermat dan
penanganan secara konkret usaha untuk mengembangakn bentuk representasi mental
yang tepat cukup sulit dilakukan.
B. Bentuk belajar menurut materi yang
dipelajari
a)
Belajar teoritis
Bentuk
belajar ini mempunyai tujuan menempatkan semua data dan fakta ( pengetahuan )
dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan
untuk memecahkan problem seperti terjadi dalam dalam bidang – bidang ilmiah.
Maka diciptakan konsep – konsep. Relasi – relasi diantara konsep dan struktur
hubungan. Seperi konsep bujur sangkar mencakup semua bentuk persegi empat;
tumbuhan dibagi dalam genus dan species. Juga dikembangkan metode untuk
memecahkan problem secara efisien dan efektif, misalnya dalam penelitian
fisika.
b)
Belajar teknis
Bentuk
belajar ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan – keterampilan, dalam
menagani dan memeganag benda – benda serta menyusun bagian - bagian
materi menjadi suatu keseluruhan, misalnya belajar mengetik. Jenis belajar ini
sering disebut belajar motorik. Adapun belajar teknis meliputi fakta seperti
siapa penemu pertama, konsep – konsep,; relasi – relasi seperti hubungan antara
besarnya energi dan tenaga yang duhasilkan; metode memecahkan problem teknis
seperti mencari sebab mobil yang tidak dapat dihidupkan.
c)
Belajar bermasyarakat
Belajar
bermasyarakat mempunyai tujuan mengelang dorongan dan kecenderungan spontan,
demi kehidupan bersama dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk
memenuhi kebutuhannya. Belajar ini meliputi fakta, seperti didirikannya Badan
Perserikatan Bangsa untuk mengatur ekhidupan masyarakatdalam ringkat
internasional; konsep – konsep seperti solidaritas, penghargaan dan kerukunan;
relasi seperti hubungan antara penindasan dan pemberontakan; metode – metode
seperti sopan santun, tata cara bermusyawarah dan sebagainya.
d)
Belajar estetis
Belajar
ini bertujuan untuk membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan di
berbagai bidang kesenian. Belajar estetik meliputi fakta, seperti naam Mozzart
sebagai pengubah musik klasik; konsep – konsep seperti ritme, tema dan
komposisi; relasi – relasi seperti hubungan antara bentuk dan isi; metode – metode
seperti menilai mutu dan originalitas suatu karya seni.
C. Bentuk belajar yang tidak begitu disadari
1) Belajar
incidental
Belajar
incidental dua hal yang berbeda namun salah satu hal diplejari tanpa unsure
kesengajaan. Hasil belajar insidnetal terbatas pada pengetahuan tentang fakta
dan data.
2) Belajar
tersembunyi
Belajar
tersembunyi ( latent learning ) merupakan belajar tanpa maksud . Tidak ada
maskud disini hanya terdapat pada pihak yang belajar. Misalnya dalam mengajar
di sekolah guru merencanakan agar siswa belajar sesuatu, namun mereka ( siswa )
tidak menyadari apa tujuan guru memberikan materi ini. Dalam belajar incidental
baik guru ataupun siswa sama tidak menyadari tentang hal yang dipelajari,
sedangkan belajar tersembunyi ketidaktahuan hanya berada pada pihak siswa .
Taksonomi Bloom
Taksonomi
Bloom mengalami dua kali perubahan perubahan yaitu Taksonomi yang dikemukakan
oleh Bloom sendiri dan Taksonomi yang telah direvisi oleh Andreson dan
KartWohl. Untuk pembahasan masing-masing dijelaskan sebagai berikut,
A. Ranah
Kognitif
Tujuan
kognitif atau Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).
Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk
dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses
berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai jenjang yang tertinggi yang
meliputi 6 tingkatan antara lain :
a. Pengetahuan
(Knowledge) – C1
Pada level
atau tingkatan terendah ini dimaksudkan sebagai kemampuan mengingat kembali
materi yang telah dipelajari, misalnya: (a) pengetahuan tentang istilah; (b)
pengetahuan tentang fakta khusus; (c) pengetahuan tentang konvensi; (d)
pengetahuan tentang kecendrungan dan urutan; (e) pengetahuan tentangklasifikasi
dan kategori; (f) pengetahuan tentang kriteria; dan (g) pengetahuan tentang
metodologi. Contoh: menyatakan kebijakan.
b. Pemahaman
(Comprehension) – C2
Pada level
atau tingkatan kedua ini, pemahaman diartikan sebagai kemampuan memahami materi
tertentu, dapat dalam bentuk: (a) translasi (mengubah dari satu bentuk ke
bentuk lain); (b) interpretasi (menjelaskan atau merangkum materi);(c)
ekstrapolasi (memperpanjang/memperluas arti/memaknai data). Contoh :
Menuliskan kembali atau merangkum materi pelajaran.
c. Penerapan
(Application) – C3
Pada level
atau tingkatan ketiga ini, aplikasi dimaksudkan sebagai kemampuan untuk
menerapkan informasi dalam situasi nyata atau kemampuan menggunakan konsep
dalam praktek atau situasi yang baru. Contoh: Menggunakan pedoman/ aturan dalam
menghitung gaji pegawai.
d. Analisa
(Analysis) – C4
Analisis
adalah kategori atau tingkatan ke-4 dalam taksonomi Bloom tentang ranah
(domain) kognitif. Analisis merupakan kemampuan menguraikan suatu materi
menjadi bagian-bagiannya. Kemampuan menganalisis dapat berupa: (a) analisis
elemen (mengidentifikasi bagian-bagian materi); (b) analisis hubungan
(mengidentifikasi hubungan); (c) analisis pengorganisasian prinsip
(mengidentifikasi pengorganisasian/organisasi). Contoh: Menganalisa
penyebab meningkatnya Harga pokok penjualan dalam laporan keuangan dengan
memisahkan komponen- komponennya.
e. Sintesis
(Synthesis) – C5
Level
kelima adalah sintesis yang dimaknai sebagai kemampuan untuk memproduksi.
Tingkatan kognitif kelima ini dapat berupa: (a) memproduksi komunikasi yang
unik; (b) memproduksi rencana atau kegiatan yang utuh; dan (c)
menghasilkan/memproduksi seperangkat hubungan abstrak. Contoh: Menyusun
kurikulum dengan mengintegrasikan pendapat dan materi dari beberapa sumber.
f. Evaluasi
(Evaluation) – C6
Level ke-6
dari taksonomi Bloom pada ranah kognitif adalah evaluasi. Kemampuan melakukan
evaluasi diartikan sebagai kemampuan menilai ‘manfaat’ suatu benda/hal untuk
tujuan tertentu berdasarkan kriteria yang jelas. Paling tidak ada dua bentuk
tingkat (level) evaluasi menurut Bloom, yaitu: (a) penilaian atau evaluasi
berdasarkan bukti internal; dan (2) evaluasi berdasarkan bukti
eksternal.Contoh: Membandingkan hasil ujian siswa dengan kunci jawaban.
B. Ranah
Afektif
Ranah
Afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan,
nilai, penghargaan, semangat,minat, motivasi, dan sikap. Lima kategori ranah
ini diurutkan mulai dari perilaku yang sederhana hingga yang paling kompleks :
a. Penerimaan
(Receiving) – A1
Mengacu
kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang
tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain
afektif. Dan kemampuan untuk menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap
orang lain. Contoh: mendengar pendapat orang lain, mengingat nama seseorang.
b. Responsive
(Responding) – A2
Satu
tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara
afektif, menjadi peserta dan tertarik. Kemampuan berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran dan selalu termotivasi untuk segera bereaksi dan mengambil
tindakan atas suatu kejadian. Contoh: berpartisipasi dalam diskusi kelas
c. Nilai yang
dianut (Value) – A3
Mengacu
kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian
tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak
menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan
opresiasi”. Serta Kemampuan menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan
mana yang baik dan kurang baik terhadap suatu kejadian/obyek, dan nilai
tersebut diekspresikan dalam perilaku. Contoh: Mengusulkan kegiatan Corporate
Social Responsibility sesuai dengan nilai yang berlaku dan komitmen
perusahaan.
d. Organisasi
(Organization) – A4
Mengacu
kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten
dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai
internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
Dan Kemampuan membentuk system nilai dan budaya organisasi dengan
mengharmonisasikan perbedaan nilai. Contoh: Menyepakati dan mentaati etika
profesi, mengakui perlunya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
e. Karakterisasi
(characterization) – A5
Mengacu
kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai
teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah
diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan
pribadi, sosial dan emosi jiwa. Dan Kemampuan mengendalikan perilaku
berdasarkan nilai yang dianut dan memperbaiki hubungan intrapersonal,
interpersonal dan social. Contoh: Menunjukkan rasa percaya diri ketika bekerja
sendiri, kooperatif dalam aktivitas kelompok
C. Ranah
Psikomotorik
Ranah
Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan
kemampuan fisik. Ketrampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya.
Perkembangan tersebut dapat diukur sudut kecepatan, ketepatan, jarak,
cara/teknik pelaksanaan. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik mulai dari
tingkat yang sederhana hingga tingkat yang rumit.
a. Peniruan – P1
Terjadi ketika
siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang
diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada
umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
b. Manipulasi – P2
Menekankan
perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan
pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini
siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah
laku saja.
c. Ketetapan – P3
Memerlukan
kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan.
Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada
tingkat minimum.
d. Artikulasi – P4
Menekankan
koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan
mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan
yang berbeda.
e. Pengalamiahan –
P5
Menurut
tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik
maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan
tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.