Selasa, 01 November 2016

Kondisi dan Jenis-Jenis Belajar Setiap Individu

            


 Kezia Pujianti Parlan
Rote-Ndao

Selamat Membaca...!!!

Kondisi dan Jenis Belajar Menurut Van Parreren
Adapun bentuk-bentuk sebagaimana dikembangkan oleh Van Parreren, secara lengkap, adalah sebagai berikut:
1.      Membentuk otomatisme
Bentuk belajar ini terutama meliputi belajar keterampilan motorik, tetapi dapat juga meliputi belajar kognitif. Ciri khas kemampuan yang diperoleh, terletak dalam otomatisasi sejumlah rangkaian gerak-gerik yang terkoordinir  satu sama lain. Keuntungan dari kemampuan yang sudah menjadi otomatisme orang itu akan bisa mencurahkan perhatian pada aktivitas lain, misalnya menyusun karangan sambil mengetik. Kelemahan dari pada otomatisme adalah keterampilan baik motorik atau hafalan menjadi kaku dan tidak fleksibel. Ada fase-fase yang harus dilalui dalam membentuk otomatisme yaitu, fase kognitif yang artinya orang mengetahui macam-macam hal mengenai keterampilan, fase latihan adalah orang akan berlatih untuk “mendarah dagingkan” keterampilan itu. Dan fase otomatisme dimana seluruh rangkaian gerak-gerik telah berlangsung dengan lancar.
2.      Belajar insidental
Belajar sesuatu tanpa mempunyai intensi atau maksud untuk mempelajari hal itu, khususnya yang bersifat pengetahuan fakta atau data. Telah ditekankan oleh De Corte, siswa disekolah juga bisa mengalami belajar semacam itu, tanpa direncanakan oleh guru, namun hasilnya sebagai efek sampingan pada belajar lain dapat menguntungkan maupun menghambat bagi perkembangan siswa.

3.      Menghafal
Orang menanamkan suatu materi verbal didalam ingatan, sehingga nanti dapat diproduksi secara harfiah sesuai dengan yang asli. Ciri khas dari hasil belajar yang diperoleh ialah reproduksi secara harfiah dan adanya skema kognitif. Pada waktu reproduksi harafiah ternyata skema berperan sebagai tape videokaset yang hanya dapat diputar dari depan ke belakang untuk bisa mendapat gambar yang jelas gejala ini menunjuk otomatisme pada prestasi hafalan. Skema kognitif menjadi syarat utama bagi keberhasilan menghafal. Namun ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu mengulang-ulang kembali materi hafalan, sampai tertanam sungguh-sungguh dalam ingatan (overlearning), lebih-lebih pada materi yang tidak mengandung struktur yang jelas.
4.      Belajar pengetahuan
Bentuk belajar ini adalah orang mulai mengetahui berbagai macam data mengenai kejadian, keadaan, benda-benda dan orang. Ciri khas dari hasil belajar yang diperoleh ialah orang dapat merumuskan kembali pengetahuan yang dimiliki dengan kata-kata sendiri, tidak perlu dirumuskan dalam bentuk aslinya. Van Parreren membedakan antara pengetahuan yang fungsional dengan pengetahuan yang tersedia saja, lebih-lebih bila pengetahuan itu menyangkut fakta yang diketahui dari mempelajari dua bidang studi yang berlainan. Pembedaan itu hanya berkaitan dengan cara informasi disimpan dalam ingatan.
5.      Belajar arti kata-kata
Bentuk belajar ini adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Perlu disadari bahwa suatu pengertian (konsep)  dapat diperoleh lebih dahulu, kemudian diberi nama berupa kata.
6.      Belajar konsep (pengertian)
Dalam proses belajar ini orang mangadakan abstraksi, yaitu dalam obyek-obyek yang meliputi benda, kejadian dan orang, hanya ditinjau dari aspek-aspek tertentu saja. Obyek tidak ditinjau obyek detailnya tetapi aspek-aspek tertentu seolah diangkat dan disendirikan. Misalnya pada bunga flamboyan, kembang sepatu, bunga anggrek, bungan mawar, ditemukan sejumlah ciri yaitu “mekar, bertangkai, berbenang sari, dan berputik”. Semua ciri ditangkap dalam pengertian bunga dan dilambangkan dalam dalam bunga. Maka, pengartian/konsep adalah suatu arti yang mewakili sejumlah obyek yang memiliki ciri-ciri yang sama. Ciri khas dari konsep yang diperoleh sebagai hasil belajar pengertian ini ialah adanya skema konseptual. Skema konseptual ialah suatu keseluruhan kognitif yang mencakup semua ciri khas yang terkandung dalam suatu pengertian.
7.      Belajar memecahkan problem melaluli pengamatan
Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada problem yang harus dipecahkan dengan mengamati baik-baik. Pemecahan problem merupakan tujuan ysng harus dicapai, tetapi tindakan yang harus diambil supaya problem terpecahkan belum diketahui. Tindakan itu masih harus ditemukan, dengan mengadakan pengamatan yang teliti dan reorganisasi terhadap unsure-unsur di dalam problem. Dari reorganisasi melalui perubahan dalam pengamatan, lahirlah suatu pemahaman yang membawa ke pemecahan problem.
8.      Belajar berpikir
Dalam belajar ini, orang juga dihadapkan pada suatu problem yang harus dipecahkan, namun tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan. Problem harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.
9.      Belajar untuk belajar
Arti bentuk belajar ini lebih luas dari pada bentuk-bentuk belajar yang dibahas sampai sekarang dan mencakup banyak unsur dari bentuk-bentuk itu. Bentuk belajar ini paling tampak jelas dalam belajar di sekolah, bila diamati perbedaan antara siswa-siswa dalam kemajuan belajar. Seringkali ternyata, bahwa siswa-siswa tertentu pad umumnya belajar lebih cepat serta lebih maju. Dengan demikian perbedaan taraf inteligensi antara siswa dijadikan satu-satunya alasan untuk menjelaskan perbedaan dalam hal kemajuan belajar. Biasanya siswa itu belajar secara sistematik dan tidak bekerja secara impulsive, misalnya setelah membaca kata-kata pertama dari suatu pertnyaan kemudian siswa mulai langsung menjawab tanpa membaca bagian lain namun setelah hasil diperoleh siswa itu melakukan refleksi bila hasilnya ternyata tidak sesuai atau tidak tepat maka diadakan analisa terhadap kesalahan yang telah dibuat supaya lain kali tidak terulang lagi.
10.  Belajar dinamik
Bentuk belajar ini bersifat sangat kompleks, karena menyangkut lahirnya sumber-sumber energi psikis, yang seolah-olah merupakan bahan bakar yang memberikan kekuatan dan dorongan kepada orang untuk melakukan berbagai aktivitas diantaranya kegiatan belajar, sumber-sumber energi psikis adalah kemauan, sikap, motiv dan perasaan. Didalam belajar dinamik, dibentuk kemauan sikap, motif, dan modalitas perasaan, yang semuanya mengambil bagian dalam pembentukan karakter. Dalam belajar ini berperanlah unsure-unsur dari belajar kognitif dan belajar nonkognitif yang sulit ditunjukkan satu persatu. Kompleksitas belajar ini bertambah rumit, karena semua hasil belajar itu sebagian besar diperoleh bergaul dengan orang lain.
Kondisi Belajar Menurut Robert Gagne
Lima variasi belajar yang dikemukakan Gagne adalah informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Kelima variasi belajar ini merepresentasikan hasil belajar yang merupakan kapabilitas.
1)      Informasi Verbal
Informasi verbal dimulai sejak masa kanak-kanak awal ketika bayi mulai belajar nama-nama objek, hewan, dan peristiwa. Berlanjut disepanjang hayat saat mereka belajar tentang dunia sekitar. Karakteristik esensial dari informasi verbal yaitu dapat ditulis atau dikatakan (diverbalkan), dan beberapa kata dari informasi verbal memiliki makna bagi individual. Informasi verbal mengacu pada memilih teks yang terkoneksi secara bermakna, dan mengorganisasikan bagian-bagian informasi. Hasil dari informasi verbal adalah menyatakan informasi.
2)      Keterampilan Intelektual
Yang termasuk dalam keterampilan intelektual adalah membedakan, mengombinasikan, menabulasikan, mengklasifikasikan, mengaalisis, dan mengkuantifikasikan objek, kejadian, dan simbol-simbol lain. Contohnya, menerjemahkan ton menjadi kilogram. Yang juga termasuk dalam keterampilan intelektual adalah aplikasi kaidah yang mengatur aktivitas bicara, menulis dan membaca, dan dalam matematika biasanya menggunakan aturan perhitungan dan memecahkan masalah soal cerita. Keterampilan intelektual sering dijumpai dalam beberapa jenis pekerjaan mulai dari perawat hingga programer komputer. Ketermapilan ini merupakan kapabilitas yang membuat manusia berfungsi secara kompeten dalam masyarakat.
Contohnya, mengidentifikasi berbagai bentuk segitiga dari segitiga yang tinggi sampai yang lebar. Belajar kaidah atau aturan, merupakan merespon satu kelompok situasi dengan kelompok kinerja yang berkaitan. Contohnya, menjawab 5 x (2 + 3) dengan menjumlahkan (5 x 2) + (5 x 3). Belajar pemecahan masalah, merupakan memecahkan masalah dengan mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. Contohnya, untuk mencari FPB dari 15 dan 30 harus mengetahui dan mengaplikasikan pemfaktoran atau faktorisasi prima dari 15 dan 30.
3)      Strategi Kognitif
Keterampilan Intelektual membentuk struktur dasar untuk belajar. Setelah siswa berhasil dalam belajar informasi verbal dan keterampilan intelektual, siswa akan mulai mengembangkan cara untuk mengatur sendiri proses mental mereka yang diasosiasikan dengan belajar. Secara spesifik, strategi kognitif merupakan belajar bagaimana cara belajar, cara mengingat, dan cara menjalankan pemikiran reflektif dan analitis yang dapat melahirkan lebih banyak kegiatan belajar lagi.
Strategi kognitif juga membantu individu untuk mengelola pemikiran mereka dengan membantu mereka menentukan kapan dan bagaimana menggunakan informasi verbal dan keterampilan intelektual. Arti penting dari startegi kognif diilustrasikan dalam riset tenntang siswa yang lemah pada salah satu mata pelajaran. Siswa ini secara khusus membutuhkan latihan strategi yang intensif. Siswa dengan prestasi rendah cenderung menggunakan memorisasi tanpa pendalaman dan strategi yang tidak efisien lainnya. Mereka gagal mengorganisasikan belajar mereka dan cenderung melewati materi yang tidak dimengerti.
4)      Keterampilan Motorik
Pada tingkatan tertentu semua kinerja adalah motorik atau gerakan karena membutuhkan beberapa jenis tindakan. Siswa munggik menggunakan tangan dan jarinya untuk menggunakan pensil sehingga dia dapat menulis jawaban soal 5 x 8. Akan tetapi tindakan ini adalah demonstaris keterampilan intelektual, bukan keterampilan motorik. Karena keterampilan motorik tidak dapat ditentukan dengan sekedar mengamati beberapa kinerja gerak yang nyata.
Dalam belajar keterampilan motorik ada tiga fase yaitu belajar tahap-tahap gerakan dalam keterampilan dan pelaksanaan rutin, menyesuaikan bagian-bagian dari keterampilan secara keseluruhan melalui latihan, dan memperbaiki pengaturan waktu dan kelancaran kinerja melalui latihan terus menerus. Fase ini secara otomatis akan menimbulkan keterampilan, sehingga ia dapat menentukan tindakan yang mungkin dapat mengganggu. Ketika belajar keterampilan telah selesai, seseorang mampu untuk merespon isyarat kinestetik yang menandai perbedaan antara tindakan yang tepat dilakukan dan yang bebas dari kesalahan.
5)      Sikap
Sikap adalah keadaan yang memengaruhi atau mengatur perilaku namun tidak secara langsung menentukan tindakan. Sikap hanya menyebabkan kemungkinan dilakukannya suatu tindakan. Memberitahu siswa tentang apa yang akan mereka pelajari dapat merupakan aspek efektif dalam pembelajaran tertentu. Namun upaya untuk membangun sikap dengan ajakan logis atau emosional yang persuasif tidaklah efektif. Contohnya, membaca pesan tertulis seperti “Jauhi Narkoba!” tidak akan memengaruhi sikap pemelajar.
Sikap pada umumnya dideskripsikan terdiri dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan behavioral. Kognitif yaitu yang mengekspresikan kaitan seperti “bertambahnya jumlah penduduk meningkatkan jumlah penangguran di Indonesia”. Aspek kedua yaitu afektif adalah perasaan yang mengiringi keyakinan kognitif. Aspek behavioral berkaitan dengan kesiapan untuk bertindak.
Untuk dapat memperoleh dan menguasai kelima kategori kapabilitas tersebut dengan sebaik-baiknya ada sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan oleh para pendidik. Ada kondisi belajar internal, yang timbul dari memori peserta didik sebagai hasil dari belajar sebelumnya, dan ada sejumlah kondisi eksternal ditinjau dari peserta didik. Kondisi eksternal ini bila diatur dan dikelola dengan baik merupakan usaha untuk membelajarkan. Misalnya pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar.

Kondisi Belajar Menurut De Blok
A.    Bentuk belajar menurut fungsi psikis
a.       Belajar Dinamik
Bentuk belajar ini mempunyai ciri khas bahwa dalam belajar terdapat suatu kehendak, sehingga tidak menyebabkan seseorang mudah menyerah dan tidak menghendaki semua hal. Berkehendak merupakan aktivitas psikis yang terarah pada pemenuhan kebutuhan yang disadari dan dihayati. Secara umum kebutuhan terbagi dua macam, yaitu kebiuhan biologis, dan kebutuhan psikologis. Kesadaran terhadap adanya kebutuhan mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu agar terpenuhi kebutuhannya. Perkembangan zaman telah mengantarkan manusia pada era globalisasi, dimana kebutuhan manusia tidak sebatas pada dapat terpenuhinya kebutuhan biologis dan psikologis, melainkan dengan apa kebutuhan tersebut terpenuhi. Lebih dari itu kerap dijumpai adanya dua kebutuhan atau lebih yang menuntut harus segera terpenuhi. Tentu saja dalam situasi seperti ini dibutuhkan suatu penilaian yang sungguh terhadap masing – masing kebutuhan, sehingga dapat memutuskan kebutuhan mana yang mendesak utuk dipenuhi, ditunda pemenuhannya, bahkan  dikorbankan.

b.      Belajar afektif
Ciri khas belajar afektif adalah belajar untuk menghaati nilai – nilai dari obyek yang dihadapi melalui alam perasaan,  dabn belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspersei yang wajar. Obyek yang dinilai tidak sebatas pada manusia, namun dapat berupa feneomena atau kejadian.  Dalam belajar afektif ini seseorang akan menghayati sungguh – sungguh suatu obyek, apakah obyek tersebut bernilai bagi dirinya atau tidak. Hasil penilaian ini akan kembalai pada perasaan individu, artinya jika obyek dinilai sebagai sesuatu yang bernilai makakan menimbulkan perasaan senang dan sebaliknya jika obyek dianggap / dinilai sebagai sesuatu yang kurang / tidak bernilai akan menimbulkan perasaan kurang senang pada diri penilai. Perasan senag meliputi sejumlah rasa yang lebih spesifik, seperti rasa puas, gembira, rasa simpati ,rasa saying dan sebagainya. Perasaan tidak senang meliputi takut, gelisah, cemas, marah, cemburu.
Fungsi afektif dan dinamik berkaitan satu dengan yang lain., sebab setiap kehendak dan kemauan disertai perasaan dan setiap perasaan mengandung dorongan untuk berkehendak dan berkemauan. Setiap peserta didik wajib mendapatkan ranah belajar afektif agar dapat mengungkapkan perasaan dalam ekspresi yang wajar dan diterima oleh masyarakat. Dalam wadah pendidikan diharapkan ranah ini mmapu menumbuhkembangkan sehingga alam perasaan peserta didik menjadi kaya dan luas.
c.       Belajar kognitif
Ciri khas ranah belajar kognitif terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan bentuk – bentuk representasi yang mewakili obyek – obyek yang dihadapi. Obyek tersebut direpresentasikan atau dihadirkan dalam dri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental. Kemampuan kognitif ini harus dikembangkan melalui belajar. Kemampuan bahasa sangat membantu kemajuan kognitif, sebab berfungsi dalam upaya mengungkapkan gagasann dan pikiran .


d.      Belajar sensi – motorik
Ranah belajar sensi – mtotorik mempunai ciri khas yang terletak dalam belajar menghadapi dan menganagi obyek – obyek secara fisik, termasuk kejasmanian manusia sendiri. Menurut Piaget, belajar sensi – motorik merupakan dasar bagi belajar berpikir. Mengamati obyek dan memeganag serta menganai benda, mendasari perkembangan berpikir. Dalamberpikir orang “ mempermainkan ” realita lingkungan hidupnya dalam bentuk representative. Tanpa pengamatan yang cermat dan penanganan secara konkret usaha untuk mengembangakn bentuk representasi mental yang tepat cukup sulit dilakukan.
B.     Bentuk belajar menurut materi yang dipelajari
a)      Belajar teoritis
Bentuk belajar ini mempunyai tujuan menempatkan semua data dan fakta ( pengetahuan ) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem seperti terjadi dalam dalam bidang – bidang ilmiah. Maka diciptakan konsep – konsep. Relasi – relasi diantara konsep dan struktur hubungan. Seperi konsep bujur sangkar mencakup semua bentuk persegi empat; tumbuhan dibagi dalam genus dan species. Juga dikembangkan metode untuk memecahkan problem secara efisien dan efektif, misalnya dalam penelitian fisika.
b)      Belajar teknis
Bentuk belajar ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan – keterampilan, dalam menagani  dan memeganag benda – benda serta menyusun bagian - bagian materi menjadi suatu keseluruhan, misalnya belajar mengetik. Jenis belajar ini sering disebut belajar motorik. Adapun belajar teknis meliputi fakta seperti siapa penemu pertama, konsep – konsep,; relasi – relasi seperti hubungan antara besarnya energi dan tenaga yang duhasilkan; metode memecahkan problem teknis seperti mencari sebab mobil yang tidak dapat dihidupkan.

c)      Belajar bermasyarakat
Belajar bermasyarakat mempunyai tujuan mengelang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Belajar ini meliputi fakta, seperti didirikannya Badan Perserikatan Bangsa untuk mengatur ekhidupan masyarakatdalam ringkat internasional; konsep – konsep seperti solidaritas, penghargaan dan kerukunan; relasi seperti hubungan antara penindasan dan pemberontakan; metode – metode seperti sopan santun, tata cara bermusyawarah dan sebagainya.
d)     Belajar estetis
Belajar ini bertujuan untuk membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan di berbagai bidang kesenian. Belajar estetik meliputi fakta, seperti naam Mozzart sebagai pengubah musik klasik; konsep – konsep seperti ritme, tema dan komposisi; relasi – relasi seperti hubungan antara bentuk dan isi; metode – metode seperti menilai mutu dan originalitas suatu karya seni.
C.    Bentuk belajar yang tidak begitu disadari
1)      Belajar incidental
Belajar incidental dua hal yang berbeda namun salah satu hal diplejari tanpa unsure kesengajaan. Hasil belajar insidnetal terbatas pada pengetahuan tentang fakta dan data.
2)      Belajar tersembunyi
Belajar tersembunyi ( latent learning ) merupakan belajar tanpa maksud . Tidak ada maskud disini hanya terdapat pada pihak yang belajar. Misalnya dalam mengajar di sekolah guru merencanakan agar siswa belajar sesuatu, namun mereka ( siswa ) tidak menyadari apa tujuan guru memberikan materi ini. Dalam belajar incidental baik guru ataupun siswa sama tidak menyadari tentang hal yang dipelajari, sedangkan belajar tersembunyi ketidaktahuan hanya berada pada pihak siswa .

Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom mengalami dua kali perubahan perubahan yaitu Taksonomi yang dikemukakan oleh Bloom sendiri dan Taksonomi yang telah direvisi oleh Andreson dan KartWohl. Untuk pembahasan masing-masing dijelaskan sebagai berikut,

A.      Ranah Kognitif
Tujuan kognitif atau Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai jenjang yang tertinggi yang meliputi 6 tingkatan antara lain :

a.        Pengetahuan (Knowledge) – C1
Pada level atau tingkatan terendah ini dimaksudkan sebagai kemampuan mengingat kembali materi yang telah dipelajari, misalnya: (a) pengetahuan tentang istilah; (b) pengetahuan tentang fakta khusus; (c) pengetahuan tentang konvensi; (d) pengetahuan tentang kecendrungan dan urutan; (e) pengetahuan tentangklasifikasi dan kategori; (f) pengetahuan tentang kriteria; dan (g) pengetahuan tentang metodologi. Contoh: menyatakan kebijakan.

b.      Pemahaman (Comprehension) – C2
Pada level atau tingkatan kedua ini, pemahaman diartikan sebagai kemampuan memahami materi tertentu, dapat dalam bentuk: (a) translasi (mengubah dari satu bentuk ke bentuk lain); (b) interpretasi (menjelaskan atau merangkum materi);(c) ekstrapolasi (memperpanjang/memperluas arti/memaknai data). Contoh : Menuliskan kembali atau merangkum materi pelajaran.

c.       Penerapan (Application) – C3
Pada level atau tingkatan ketiga ini, aplikasi dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menerapkan informasi dalam situasi nyata atau kemampuan menggunakan konsep dalam praktek atau situasi yang baru. Contoh: Menggunakan pedoman/ aturan dalam menghitung gaji pegawai.

d.       Analisa (Analysis) – C4
Analisis adalah kategori atau tingkatan ke-4 dalam taksonomi Bloom tentang ranah (domain) kognitif. Analisis merupakan kemampuan menguraikan suatu materi menjadi bagian-bagiannya. Kemampuan menganalisis dapat berupa: (a) analisis elemen (mengidentifikasi bagian-bagian materi); (b) analisis hubungan (mengidentifikasi hubungan); (c) analisis pengorganisasian prinsip (mengidentifikasi pengorganisasian/organisasi). Contoh: Menganalisa penyebab meningkatnya Harga pokok penjualan dalam laporan keuangan dengan memisahkan komponen- komponennya.

e.       Sintesis (Synthesis) – C5
Level kelima adalah sintesis yang dimaknai sebagai kemampuan untuk memproduksi. Tingkatan kognitif kelima ini dapat berupa: (a) memproduksi komunikasi yang unik; (b) memproduksi rencana atau kegiatan yang utuh; dan (c) menghasilkan/memproduksi seperangkat hubungan abstrak. Contoh: Menyusun kurikulum dengan mengintegrasikan pendapat dan materi dari beberapa sumber.

f.        Evaluasi (Evaluation) – C6
Level ke-6 dari taksonomi Bloom pada ranah kognitif adalah evaluasi. Kemampuan melakukan evaluasi diartikan sebagai kemampuan menilai ‘manfaat’ suatu benda/hal untuk tujuan tertentu berdasarkan kriteria yang jelas. Paling tidak ada dua bentuk tingkat (level) evaluasi menurut Bloom, yaitu: (a) penilaian atau evaluasi berdasarkan bukti internal; dan (2) evaluasi berdasarkan bukti eksternal.Contoh: Membandingkan hasil ujian siswa dengan kunci jawaban.



B.      Ranah Afektif
Ranah Afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat,minat, motivasi, dan sikap. Lima kategori ranah ini diurutkan mulai dari perilaku yang sederhana hingga yang paling kompleks :

a.       Penerimaan (Receiving) – A1
Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif. Dan kemampuan untuk menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap orang lain. Contoh: mendengar pendapat orang lain, mengingat nama seseorang.

b.       Responsive (Responding) – A2
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik. Kemampuan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan selalu termotivasi untuk segera bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Contoh: berpartisipasi dalam diskusi kelas

c.       Nilai yang dianut (Value) – A3
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”. Serta Kemampuan menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan mana yang baik dan kurang baik terhadap suatu kejadian/obyek, dan nilai tersebut diekspresikan dalam perilaku. Contoh: Mengusulkan kegiatan Corporate Social Responsibility sesuai dengan nilai yang berlaku dan komitmen perusahaan.

d.       Organisasi (Organization) – A4
Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup. Dan Kemampuan membentuk system nilai dan budaya organisasi dengan mengharmonisasikan perbedaan nilai. Contoh: Menyepakati dan mentaati etika profesi, mengakui perlunya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.

e.       Karakterisasi (characterization) – A5
Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa. Dan Kemampuan mengendalikan perilaku berdasarkan nilai yang dianut dan memperbaiki hubungan intrapersonal, interpersonal dan social. Contoh: Menunjukkan rasa percaya diri ketika bekerja sendiri, kooperatif dalam aktivitas kelompok

C.       Ranah Psikomotorik
Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Ketrampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya. Perkembangan tersebut dapat diukur sudut kecepatan, ketepatan, jarak, cara/teknik pelaksanaan. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik mulai dari tingkat yang sederhana hingga tingkat yang rumit.

a.       Peniruan – P1
Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.

b.       Manipulasi – P2
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.

c.       Ketetapan – P3
Memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.

d.       Artikulasi – P4
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.

e.       Pengalamiahan – P5
Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar