Kamis, 21 Mei 2015

evaluasi dalam Pendidikan Agama Kristen






EVALUASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
Dalam makalah ini saya akan membahas mengenai evaluasi dalam Pendidikan Agama Kristen. Mulai dari pengertian evaluasi, fungsi evaluasi, tujuan evaluasi PAK, kedudukan evaluasi PAK, dan prinsip-prinsip evaluasi.
Pengertian Evaluasi Pendidikan Agama Kristen
Menurut Musel dalam bukunya pengajaran yang berhasil, evaluasi diartikan : penelitian pekerjaan belajar untuk mengetahui persoalan-persoalan sulit yang melekat pada proses belajar itu. Jadi disini evaluasi mengandung pengertian suatu “proses penelitian yang dilakukan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi pada proses belajar”. Dengan demikian proses evaluasi itu sendiri harus memenuhi ketentuan-ketentuan penelitian yang berlaku. Sedangkan yang dimaksud dengan belajar ialah proses yang mempunyai tujuan dan yang dilakukan secara sadar.[1]
Menurut Winkel dalam bukunya Psikologi Belajar dan Evaluasi Pendidikan : evaluasi diartikan “usaha untuk mengetahui sampai dimana kegiatan pengajaran mencapai sasarannya. Dalam pengertian pengajaran terkandung makna kesulitan-kesulitan apa yang diperoleh para siswa di dalam belajarnya yang akhirnya akan diikuti bagaimana cara mengatasi kesulitan tersebut.
Jadi menurut kedua pendapat tersebut di atas jelaslah bahwa kegiatan evaluasi itu dimaksudkan untuk mengukur sampai dimana kegiatan proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh seseorang itu memperoleh hasil. Jadi Evaluasi PAK dimaksud disini adalah suatu kegiatan untuk mengukur sampai dimana Pendidikan Agama Kristen itu mencapai tujuan.[2]
Fungsi Evaluasi PAK
Bila kita perhatikan baik di rumah, di sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat akan selalu kita dapatkan kecenderungan seseorang untuk mengadakan evaluasi terhadap hasil usaha yang telah dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Jadi fungsi evaluasi yaitu member umpan balik pada guru mengenai program pengajaran yang dilaksanakan untuk menentukan keberhasilan kemajuan belajar siswa. Untuk menetapkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai minat dan kemampuan siswa mengetahui latar belakang kesulitan belajar siswa.[3]
Contoh : Di rumah: seorang ibu atau ayah pasti akan selalu melihat tahap-tahap dari perkembangan anaknya. Baik disadari atau tidak disadari setiap orang ketemu dengan tetangganya atau sanak keluarga selalu akan bertanya sudah dapat “apa” anakmu. Ini suatu gejala yang menunjukkan adanya evaluasi meskipun belum tersusun dan terencana. Di sekolah: Adanya tes formatif, tes sub sumatif, tes sumatif, EBTA atau UAN dan sebagainya. Di Lingkungan Masyarakat : Pemimpin perkumpulan/Organisasi selalu mengadakan evaluasi terhadap kegiatan perkumpulannya misalnya : dengan mengadakan kunjungan persahabatan.
Tujuan Mengadakan Evaluasi
Tujuan Pertama adalah Untuk mengetahui tingkat kemajuan anak. Bagi seorang guru tidak mungkin akan dapat membimbing anak didiknya tanpa mengetahui tingkat-tingkat kemajuan dari anak didiknya. Pengetahuan tentang tingkat kemajuan anak ini akan banyak manfaatnya bagi seorang guru. Dengan memiliki pengetahuan tentang tingkat kemampuan anak didik, guru dapat mengetahui kedudukan anak di dalam kelompoknya.
Dengan demikian kita dapat memperkirakan apak anak didik kita termasuk anak yang kurang atau anak yang cukup atau anak yang pandai. Dengan demikian guru akan dapat membuat rencana yang tepat dan realisitis untuk mengarahkan masa depan dari anak didiknya. Perencanaan yang tidak realistis akan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai masa depan yang baik bagi anak.[4]
Pengetahuan tentang tingkat kemajuan anak ini bila digabungkan dengan kemampuan dasar dari anak dapat digunakan sebagai petunjuk untuk memantau kesungguhan belajar anak, gambaran ini kita pergunakan mengetahui sebab-sebabnya dan akhirnya guru atau orang tua dapat mencarikan jalan keluarnya.[5]
Tujuan Kedua adalah Untuk mengetahui tingkat efisiensi metode. Di dalam kegiatan mendidik atau mengajar pasti kita akan menggunakan bermacam-macam metode sedangkan kita tahu bahwa tidak setiap metode itu cocok atau tepat untuk kita pergunakan di dalam kita mengajar, sehingga seorang guru harus mampu memilih (menyeleksi) metode yang paling cocok untuk diterapkan di dalam kita mengajar dengan memperhatikan bermacam-macam faktor seperti : sifat materi, sifat kelompok anak didik, kecakapan guru dan sebagainya. Bukan sesuatu yang mustahil apabila metode yang kita pilih ternyata tidak tepat. Tepat atau tidaknya dalam memilih metode ini dapat kita ketahui dengan melalui evaluasi.
Kedudukan Evaluasi PAK
Terkadang kita bingung menempatkan kedudukan evaluasi dalam kegiatan pendidikan. Saya yakin kita sebagai pendidik paham benar apa arti evaluasi, namun apabila diminta menghubungkan benang merah keduanya agak sulit. Bahasan ini akan menjadi menarik apabila kita mengambil alat ukur etimologi dan filosofi pendidikan sebagai pengukurannya agar diperoleh kajian yang tepat keduanya. Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris yakni Evaluation.[6]
Dalam buku Ensensialof Educational Evaluation yang merupakan karangan Wanl dan Brown 1957 dikatakan bahwa evaluasi merupakan suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu. Sesuai dengan pendapat tersebut maka evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.[7]
Menurut Arifin evaluasi mengacu pada suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu. Sedangkan menurut Winternington dalam Arifin 1988 mengatakan bahwa “An Evaluation is a Declaration that some things has or does not have value”. Sehingga hal ini evaluasi menentukan apakah sesuatu itu mempunyai atau tidak mempunyai nilai. Jadi, kedua rumusan diatas dianalisis lebih lanjut maka ada dua hal pokok yang harus diperhatikan yaitu :
Pertama, bahwa evaluasi merupakan suatu tindakan. Tindakan yang dimaksud yang dilakukan seseorang evaluator terhadap suatu peristiwa atau keajaiban. Tindakan ini mengandung maksud untuk memberikan arti atau makna dari kejadian itu sehingga dapat diproses lebih lanjut.[8]
Kedua, bahwa evaluasi dimaksudkan untuk menentukan  nilai sesuatu, sehingga hasil dari evaluasi itu dapat menentukan apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Pada proses pendidikan evaluasi dilakukan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang dilakukan serta untuk mengetahui apakah kompetensi dasar dan tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai peserta didik melalui pembelajaran.
Proses pendidikan yang merupakan tranformasi kebudayaan dan peradaban menurut Dimiyati dan Mujiono mewakili unsur – unsur yang meliputi: Pendidik dan persoalannya, isi pendidikan, teknik, sistem evaluasi, sarana pendidikan, sistem administrasi.
Prinsip-Prinsip Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses, yakni proses menentukan sampai berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya sudah ditetapkan secara operasional, selanjutnya juga ditetapkan patokan pengukuran hingga dapat diperoleh penilaian. Karena itu dalam evaluasi diperlukan prinsip – prinsip sebagai petunjuk agar dalam melaksanakan evaluasi dapat lebih efektif. Prinsip – prinsip itu antara lain:
Kepastian dan Kejelasan
Dalam proses evaluasi maka kepastian dan kejelasan yang akan dievaluasi menduduki uarutan pertama. Eavaluasi akan dapat dilaksanakan apabila tujuan evalusi tidak dirumuskan dulu secara jelas. Dalam difinisi yang operasional bila kita ingin mengevaluasi kemajuan belajar siswa maka kita pertama – tama difinisikan tujuan – tujuan intruksional pengajaran dan barulah kita kembangkan alat evaluasinya. Dengan demikian efektifitas alat evaluasi tergantung pada deskripsi yang jelas apa yang akan kita evaluasi.[9]
Pada umumnya alat evaluasi dalam pendidikan terutama pengajaran berupa test. Test itu mencerminkan karakteristik/watak aspek yang akan diukur. Kalau kita akan mengevaluasi tingkatan intelegensi siswa, maka komponen – komponen intelegensi itu harus dirumuskan dengan jelas dan kemampuan belajar yang dicapai dirumuskan dengan tepat, selanjutnya dikembangkan test sebagai evaluasi. Dengan demikian keberhasilan evaluasi lebih banyak ditentukan kepada kemampuan guru (evaluator) dlam merumuskan/mendefinisikan dengan jelas aspek – aspek individual kedalam proses pendidikan.[10]
Teknik Evaluasi
Teknik evaluasi yang dipilih sesuai dengan tujuan evaluasi hendaklah diingat bahwa tidak ada teknik evaluasi yang cocok untuk semua keperluan dalam pendidikan termasuk evaluasi pendidikan agama kristen. Tiap – tiap tujuan (pendidikan) yang ingin dicapai dikembangkan teknik evaluasi tersendiri yang cocok dengan tujuan tersebut. Kecocokan antara tujuan evaluasi dan teknik yang digunakan perlu dijadikan pertimbangan utama.


Komperhensif
Evaluasi yang komperhensif memerlukan teknik evaluasi tunggal yang mampu mengukur tingkat kemampuan siswa dlam belajar meskipun hanya dalam satu pertemuan jam pelajaran, sebab dalam kenyataannya tiap – tiap teknik evaluasi mempunyai keterbatasan tersendiri. Tes obyektif misalnya : akan memberikan bukti obyektif tentang tingkat kemampuan siswa. Tetapi hanya memberikian informasi sedikit siswa tentang apakah ia nbenar – benar mengerti tentang materi tersebut, apakah akan dapat mengubah/mengembangkan sikapnya apabila menghadpai situai yang nyata dan sebagainya.[11]
Lebih – lebih pada tes subyektif yang penilaiannya lebih banyak tergantuk pada subyektifitas evaluasinya. Atas dasar prinsip – prinsip inilah maka seyogyanya dalam proses belajar mengajar untuk mengukur kemampuan belajar sisea digunakan teknik evaluasi yang bervariasi. Bob houston seorang ahli evaluasi di Amerika Serikat/Texas menyarankan untuk mendapatkan hasil yang lebih obyektif dalam evaluasi maka variasi teknik tidak hanya dikembangkan dalam bentuk dan kuantitas saja, evaluasi harus didasarkan pada data kuatitatif siswa yang diperoleh dari evaluasi guru, kepala sekolah, catatan harian dan sebagainya.[12]
Kesadaran adanya kesalahan pengukuran evaluator harus menyadari keterbatasan dan kelamahan dalam teknik evaluasi yang digunakan. Atas dasar kesadaran ini maka dituntut untuk lebig hati – hati dalam kenijakan – kebijakan yang diambil setelah melaksanakan evaluasi. Evaluator menyadari bahwa dalam pengukuran yang dilaksanakan hanya mengukur sebagian (sempel) saja dari suatu kompleksitas yang seharusnya diukur, lagi pula pengukuran dilakukan hanya pada saat tertentu saja. Maka dapat terjadi salah satu aspek yang sifatnya menonjol yang dimiliki sisa tidak termasuk dalam sempel pengukuran. Inilah yang disebut sampling error dalam evaluasi.
Sumber kesalahan / error yang lain terletak pada alat/ instrumen yang digunakan dalam proses evaluasi. Penyusunan alat – alat evaluasi tidak mudah lebih – lebih bila aspek yang diukur sifatnya komplek.
Dalam skorsing sebagai data kuantitatif yang diharapkan dapat mencerminkan obyektifitas tidak lupt dari “error of measurement”. Test obyektifitas tidak lupt dari guessing, main terka, untung – untungan sedangkan essay subyektifitas penilai masuk didalamnya. Karena itu dalam laporan hasil evaluasi evaluator perlu melepaskan adanya keslahan pengukuran ini. Pengukuran dengan test kesalahan pengukuran dpat ditunjukan dengan koefesien kesalahan pengukuran.[13]
Evaluasi adalah alat bukan tujuan. Evaluator menyadari sepenuhnya bahwa tiap – tiap teknik evaluasi digunakan sesuai dengan tujuan evaluasi. Hasil evaluasi yang diperoleh tanpa tujuan tertentu akan membuang waktu dan menyebabkan merugikan akan didik. Maka dari itu yang perlu dirumuskan lebih dahulu ialah tujuan evaluasi, baru dari tujuan ini dikembangkan teknik yang akan digunakan dan selanjtnya disusun test sebagai alat evaluasi.
Jangan sampai terbalik, sebab tanpa diketahui tujuan evaluasi daya yang diperoleh akan sia – sia. Atas dasar pengertian  tersebut diatas maka kebijakan pendidikan yang akan diambil dirumuskan dulu dengan jelas sebelumnya dipilih prosedur evaluasi yang digunakan dengan baik.


















DAFTAR PUSTAKA

1.      Kritianto, Paulus. Prinsip dan Praktik PAK. Yogyakarta. ANDI Offset. 2006.
2.      Nainggolan, John. Menjadi Guru Agama Kristen. Bandung. Generasi Info Media. 2007.
3.      Widadiyono, Sri. Evaluasi PAK, Diktat Kuliah. Yogyakarta. UKRIM Yogyakarta. 2013.
4.      Heath, Stanley. Psikologis yang Sebenarnya. Yogyakarta. ANDI Offset.
5.      Mulyasa, H.E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung. Rosdakarya. 2014.
6.      Lebar, Lois. Education That Is Christian. Malang. Gandum Mas. 2006.
7.      Nasution, S. Sosiologi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara. 2004.
8.      Wibowo, Agus. Menjadi Guru Berkarakter. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2012.
9.      Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Rosdakarya. 2002.
10.  Internet. Evaluasi Pendidikan. www.akademiaedu.com






EVALUASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN


EVALUASI PEMEBELAJARAN PAK



                                                Disusun Oleh :

                                    Nama   : Kesia Pujianti Parlan
                                    NIM    : 1311100603
                                    Prodi   : Pendidikan Agama Kristen





FAKULTAS AGAMA KRISTEN
UNIVERSITAS KRISTEN IMMANUEL YOGYAKARTA
MARET
2015





[1]Sri Widadiyono, Diktat Kuliah Evaluasi Pendidikan PAK ( UKRIM ).
[2]Sri Widadiyono, Diktat Kuliah Evaluasi Pendidikan PAK ( UKRIM ).

[3]Ibid.

[4]Mulyasa, H.E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013 (Bandung. Rosdakarya. 2014),  54.

[5]Ibid., 56.

[6]Kristianto, Paulus. Prinsip dan Praktik PAK ( Yogyakarta. ANDI Offset. 2006), 75.
[7]Lebar, Lois. Education That Is Christian ( Malang. Gandum Mas. 2006 ), 43.
[8]Ibid., 45.
[9]Wibowo, Agus. Menjadi Guru Berkarakter ( Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2012), 65.

[10]Ibid., 67.
[11]Internet, Evaluasi Pendidikan, www.akademiaedu.com

[12]Internet, Evaluasi Pendidikan, www.akademiaedu.com

[13]Internet, Evaluasi Pendidikan, www.akademiaedu.com

peranan manajerial kelas


Pengertian Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah beragam tingkah laku guru yang kompleks agar pengajarannya menjadi efektif dan efisien. Manajemen merupakan suatu hal dapat membuat siswa terlihat sangat aktif dalam aktivitas pembelajaran di kelas dan mereduksi tingkah laku-tingkah laku yang kontraproduktif dengan proses pembelajaran sehingga guru dan siswa dapat melakukan proses belajar mengajar dengan efisien jika dilihat dari segi waktu. Tanpa manajemen kelas yang efektif proses pembelajaran siswa akan terganggu selama pengajaran berlangsung.
Manajemen kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan penanggung jawab kegiatan belajar mengajar apa yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi yang optimal,sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasan kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah: sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan kreatif.
Manajemen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan belajr mencapai tujuan belajar secara efesien atau memungkinkan pesrta didik belajar dengan baik

       I.            Tujuan/Fungsi Manajerial Kelas
A.    Tujuan Manajemen Kelas
Adapun tujuan dari Manajemen Kelas adalah sebagai berikut :
*      Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
*      Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan Manajemen Kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan/ perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban.
*      Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.
B.     Fungsi Manajerial Kelas
*      Memberikan dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menentukan tujuan-tjuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerja sama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, mengubah kondisi kelas.
*      Memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan lancar.
    II.            Prinsip-prinsip dalam Manajemen Kelas
Djamarah (2006:185) menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut.
1)      Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2)      Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3)      Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
4)      Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
5)      Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
6)      Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.
 III.            Pendekatan dalam Manajemen Kelas
Manajemen kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individual.
Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. (Djamarah 2006:179).



Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
a)      Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
b)      Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
c)      Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
d)     Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.


e)      Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
f)       Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.
g)      Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.
h)      Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan in, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
i)        Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dabn inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut.
Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.
 IV.            Pengaruh Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Kelas
Pembelajaran yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh pembaharuan kurikulum, fasilitas yang tersedia, kepribadian guru yang simpatik, pembelajaran yang penuh kesan, wawasan pengetahuan guru yang luas tentang semua bidang, melainkan juga guru harus menguasai kiat memanejemeni kelas.
Pemahaman akan prinsip-prinsip manajemen kelas ini penting dikuasai sebelum hal-hal khusus diketahui. Dengan dikuasainya prinsip-prinsip manajemen kelas, hal ini akan menjadi filter-filter penyaring yang menghilangkan kekeliruan umum dari manajemen kelas. Manajemen kelas dapat mempengaruhi tingkat kualitas pembelajaran di kelas karena manajemen kelas benar-benar akan mengelola susasana kelas menjadi sebaik mungkin agar siswa menjadi nyaman dan senang selama mengikuti proses belajar mengajar.
Oleh karena itu, kualitas belajar siswa seperti pencapaian hasil yang optimal dan kompetensi dasar yang diharapkan dapat tercapai dengan baik dan memuaskan. Selain itu, manajemen kelas juga akan menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Di samping itu juga, dengan manajemen kelas tingkat daya serap materi yang telah diajarkan guru akan lebih membekas dalam ingatan siswa karena adanya penguatan yang diberikan guru selama proses belajar mengajar berlangsung


Rabu, 20 Mei 2015

Bagaimana Mengatur Waktu dengan Baik???




MENGATUR WAKTU DENGAN BIJAK


Manajemen waktu adalah bagaimana seseorang mampu mengatur waktunya sedemikian rupa, sehingga tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Sadar atau tidak, kita seringkali membuang waktu dengan percuma. Hal ini dapat kita lihat daro tugas yang dipercayakan kepada kita tidak dapat diselesaikan tepat waktu.[1]
Time is money adalah istilah bahasa Inggris yang umum dan telah memasyarakat. Makna dan artinya sesuai dengan situasi kota Jakarta yang selalu sibuk. Setiap orang berusaha memanfatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan tidak jarang sebagian waktu habis di perjalanan yang selalu diwarnai dengan kemacetan lalu lintas. [2]
            Time is money mempunyai arti waktu itu berharga sekali, tetapi kenyataan berharga itu hanya  berada dalam material dan sangat disayangkan hal itu tidak dikaitkan dengan hal pelayanan kepada Tuhan atau kebutuhan rohani. Ada pepatah umum yang lain yang mengatakan , pergunakanlah kesempatan dalam kesempitan. Sebenarnya arti kesempatan yang sempit itu, sangat cocok dengan kehidupan jemaat Tuhan yang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan tugas dan janganlah menunda-nunda waktu. Sebab waktu kehidupan yang ada didepan telah sempit, dan kita terkadang selalu ingin menunda terus, karena dalam hati kecil kita sering mengatakan bahwa masih ada hari esok. [3]
            Ada sebuah contoh, dalam sebuah gereja ada seorang pemudi yang rindu dan ingin ikut dalam pelayanan Sekolah Minggu, namun ia selalu menunda dengan suatu alasan klasik yaitu dia selalu sibuk dengan urusan yang lain. Alasan yang dikemukakan selalu menyangkut dengan waktu. Sedang menghadapi ujian akhir, sibuk dengan pekerjaan yang baru, sedang mempersiapkan pesta perkawinwnnya, sedang hamil, anak pertama belum bisa ditinggal. Itulah sederet alasan yang dikemukakan pada saat ditanya oleh rekan-rekan guru Sekolah Minggu. Beberapa tahun kemudian sang pemudi jatuh sakit yang cukup serius, yaitu mengidap kanker yang cukup ganas. Pada saat rekan-rekan melawat kerumahnya, seketika ia teringat kembali pada kerinduannya yang lama untuk bisa ikut melayani Sekolah Minggu. Waktu yang selalu ditunda-tunda dan menganggap waktunya masih panjang, ternyata tidak sepanjang yang diharapkan. Rupanya kesempatan untuk ikut pelayanan dalam pekerjaan Tuhan sudah tidak ada lagi.
            Tuhan Yesus telah datang kedunia untuk menyelamatkan manusia dari lumpur dosa, dan merelakan kematian-Nya dikayu salib. Sebagai orang yang telah mempeoleh keselamatan, patutlah kita mempunyai rasa berhutang kepada Tuhan. Dan hutang itu hanya berupa kesediaan untuk melanjutkan misi Tuhan Yesus untuk menyelamatkan dunia dan memberitakan Injil keseluruh bumi (Matius 28 : 19).
Pentingnya Mengatur Waktu
            Detik demi detk begitu berarti, sehingga kita rugi jika tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Kita tidak dapat menahan perjalanan waktu sesuka kita. Akan tetapi kita harus menyesuaikan kegiata-kegiatan kita dalam perjalanan waktu. Sebab waktu selalu bergerak maju atau tidak pernah mundur. Peristiwa yang terjadi hari ini tidak dapat terulang pada hari-hari berikutnya. Oleh karena itu, kita perlu mengatur dan menggunakan waktu sebaik mungkin. Jika kita mampu mengatur waktu dengan baik, maka kegiatan dan hidup kita berjalan tertib sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.[4]
            Karena itu, kita harus membuat prioritas atas kegiatan-kegiatan yang kita lakukan. Selain itu, kita juga harus menggunakan waktu secara efisien dan efektif atau denga kata lain mengerjakan dan menghasilkan sesuatu dengan tenaga, bbiaya, dan waktu secara tepat serta berguna. Jika kita bermain tanpa batas waktu, maka kita akan kehilangan waktu untuk kegiatan lain yabg sangat kita butuhkan. Lebih dari itu, bahkan kita dapat terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan yang awalnya iseng ternyata berakibat buruk dan membahayakan kita. Dengan menyadari hal ini, maka kita seharusnya memanfaatkan setiap waktu yang diberikan Allah kepada kita dengan penuh tanggung jawab.[5]
            Penggunaan waktu menyingkapkan sampai tingkat mana kita sedang diubahkan oleh anugerah Kristus. Waktu merupakan sebuah sumber yang kita semua miliki dalam jumlah yang sama. Dalam Efesus 5:15-21, Paulus berkata:
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. Dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang terhadap yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani.
Paulus menghubungkan komentar-komentarnya mengenai waktu dengan relasi kita dengan orang Kristen yang lain dan dunia. Dia berkata, ‘‘pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat’’. Terjemahan versi King James berkata, ‘‘tebuslah waktu, karena hari-hari adalah jahat’’.
            Panggilan untuk ‘‘tebuslah waktu’’ sama dengan ‘‘memanfaatkan waktu’’.  Sebuah terjemahan yang lebih literal dari ‘‘tebuslah waktu’’ adalah ‘‘membeli waktu’’. Ini adalah sebuah waktu dari kesempatan yang unik bagi kita untuk menunjukkan anugerah Kristus kepada orang lain. Suatu hari akan tiba saatnya ketika Kristus kembali dalam kuasa dan kemuliaan. Maka ketika kita menjalankan kehidupan kita dalam waktu sekarang ini, gunakanlah hingga sepenuhnya untuk menunjukkan anugerah Kristus kepada orang lain.[6]
Cara Mengatur Waktu
Waktu adalah sumber daya yang terbatas, tidak bisa diulang, terus berjalan dan satu hari sama bagi semua orang, tidak bisa lebih, satu hari adalah 24 jam, yang mengelola lebih baik akan mendapatkan hasil yang lebih pula. Hidup maksimal adalah masalah bagaimana kita mengisi waktu yang berlangsung begitu cepat.[7]
Banyak mahasiswa, terutama mahasiswa baru yang belum terbiasa dengan kegiatan belajar di kampus, mereka kesulitan membagi waktu untu belajar. Sebenarnya mahasiswa memiliki waktu senggang yang cukup banyak, namun seringkali tidak digunakan dengan baik. Waktu selain kuliah biasa dihabiskan dengan rutinitas seperti shopping, fitness, jalan-jalan bahkan ada yang suka menggunakan waktu luangnya untuk berpacaran.[8]
Memang tidak ada cara yang ampuh yang berlaku bagi semua orang dalam manajemen waktu, selain dengan mengenali diri sendiri dengan ebih baik, serta menentukan cara agar bisa mempergunakan waktu dengan lebih efektif. Patut pula diingat bahwa inti dari manajemen waktu adalah konsentrasi pada hasil, dan bukan sekadar menyibukkan diri. Oleh karena itu, butuh cara atau tips yang mampu mengatur waktu dengan baik, sehingga kuliah bisa lulus tepat waktu dan mendapatkan nilai terbaik. Berikut ini ada beberapa langkah-langkah yang dapat kita ikuti dalam mengatur waktu kita untuk lebih efektif.
Pertama, gunakan selembar kertas dan buatlah daftar tugas. Kedua, memperkirakan berapa banyak waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap tugas. Ketiga, hilangkan tugas-tugas yang tidak perlu dari daftar kita. Apakah kita melakukan tugas-tugas ini karena kita suka atau karena kita merasa harus? Beritahu orang lain jika perlu. Keempat, delegasikan beberapa tugas kepada orang lain. Tulis nama mereka disamping setiap tugas yang kita delegasikan. Kelima, prioritaskan tugas-tugas kita dengan penomoran mereka dalam urutan terpenting.
Tips Dalam Membagi Waktu
Sebagian orang mampu memanfaatkan waktu untuk melakukan banyak hal yang positif dan produktif. Di lain pihak, justru menghabiskan waktu dengan tidak melakukan apa-apa. Bahkan bagaimana dengan pihak lain yang malah menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat. Waktu mengubah semua hal, kecuali kita. Kita mungkin menua sejalan dengan berjalannya waktu, tetapi belum tentu membijak. Kitalah yang harus mengubah diri kita sendiri. Berikut beberapa tips sederhana yang dapat kita lakukan bersama-sama untuk melakukan pengaturan waktu yang lebih baik.[9]
Jangan Menunda
Salah satu kebiasaan buruk kita adalah suka menunda. Suka menunda adalah salah satu penyakit mental manusia, yang diciptakan oleh kita sendiri. Saat kita menunda sesuatu, itu berarti memperlambat pencapaian tujuan kita saat ini dan menghalangi kesempatan di masa mendatang. Dalam suatu kondisi waktu  beberapa detik saja dapat menentikan nasib seseorang. Cara untuk mencegah penundaan adalah dengan merancang deadline dan targeting untuk tujuan yang harus dicapai.[10]
Kenali Kegiatan yang Kita Lakukan
Memori otak kita mungkin adalah pengingat yang payah, jika ini berhubungan dengan menetapkan bagaimana kita melewatkan waktu. Cara terbaik untuk merekam aktivitas kita sepanjang hari adalah dengan mencatat apa yang kita lakukan. Kebanyakan orang akan menemukan kalau mereka memiliki tiga jam dalam sehari yang sebenarnya dapat digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat atau tindakan yang efisien. Kurangi waktu yang kita gunakan untuk  bertelepon, membolak-balik majalah atau surfing di web yang tak menghasilkan apapun, dan batasi kegiatan-kegiatan yang tak terlalu penting.[11]
Buat Jadwal atau Agenda Kegiatan yang Tepat
Dalam memanfaatkan waktu yang efisien, pembuatan jadwal dalam agenda hidup, akan membantu kita lebih efektif dalam mengelola waktu dan menghindari dari aktivitas yang kurang bermanfaat. Bagi kebanyakan orang waktu dilewatkan begitu saja, tanpa harus dimanfaatkan secara bermakna. Waktu tidak hanya setara dengan uang, namun lebih dari itu. Waktu merupakan aset tak kasat mata yang paling sulit untuk dikendalikan penggunaannya.[12]
Berkonsentrasi Pada Hasil
Banyak orang melewatkan waktu mereka sepanjang hari dengan aktivitas yang super padat, tetapi hanya membuahkan sedikit hasil. Itu dapat terjadi karena mereka tidak berkonsentrasi pada hal yang benar. Jangan terkecoh antara bekerja secara efisien dan bekerja secara efektif. Beberapa kegiatan dapat membebaskan dari tekanan tapi itu tak mancapai tujuan kita. Contohnya, ngeteh, ngopi, chatting dulu.
Membuat Rencana Tindakan
Sebuah rencana tindakan merupakan daftar pendek dari tugas yang harus dilengkapi untuk mencapai sebuah tujuan, dimana fokus utamanya adalah pencapaian tujuan atau keinginan mencapai sesuatu, buat gambaran gambling dari rencana tindakan, ini akan memberi kita kesempatan untuk lebih berkonsentrasi pada tahap pencapaian itu, dan memonitor kemajuan pencapaian tujuan kita.[13]
Jadwalkan Waktu Untuk Bersantai
Secepat mungkin menyelasaikan urusan ketika memungkinkan, lakukan tindakan pda hari yang sama saat kita menerimanya. Jangan biarkan pikiran kita jadi terbebani dengan tugas-tugas yang akan bertumpuk. Setelah kita mengatur waktu untuk usaha dan rutinitas kita, pastikan kita menyisihkan waktu untuk bersantai dan menenangkan pikiran.[14]
Bersikap Tegas Pada Waktu
Dengan beberapa point-point diatas diperlukan kesadaran oleh diri kita sendiri mengenai betapa pentingnya waktu kita. Perlu adanya sikap tegas dalam menjalankan agenda kegiatan kita tersebut. Kecuali ada halangan yang sangat penting sekali yang dapat membuat jadwal kita menjadi sedikit goyah. Usahakan kegiatan yang tidak sempat kita lakukan tersebut dilakukan sesegera mungkin. Dengan kita bisa memanfaatkan atau mengatur waktu yang ada, kita dapat menciptakan peluang yang lebih besar, peluang untuk usaha lebih baik, peluang untuk beribadah lebih baik, peluang untuk kerja lebih baik, peluang untuk melakukan kegiatan yang lebih baik untuk diri sendiri maupun orang lain atau peluang menjadi sukses akan dapat dicapai lebih singkat jika kita bisa memanfaakan waktu. [15]
Cara Memiliki Hidup yang Maksimal
Waktu itu berlalu sangat cepat dan tidak akan kembali. Ia adalah harta milik manusia yang paling mahal. Waktu adalah kehidupan kita sendiri. Menyia-nyiakan waktu sama dengan membunuh diri secara perlahan. Orang yang hidupnya maksimal adalah mereka yang menggunakan waktu sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang. Selain dari tips-tips di atas ada pula beberapa strategi yang dapat kita lakukan berhubungan dengan mangatur waktu untuk memiliki hidup yang maksimal.
Prioritas
Kita harus memiliki urutan prioritas di dalam hidup ini. Jika tidak memiliki prioritas, kita akan bingung dalam mengalokasikan sumber daya, entah tenaga, uang dan juga waktu. Di dalam keluarga, prioritas utama adalah pasanga ( suami atau isteri ), baru anak, kemudian orang tua dan mertua atau kakak dan adik maupun ipar. Di dalam hidup pribadi prioritas pertama kita adalah keluarga, kedua pekerjaan, ketiga kegiatan sosial atau pelayanan.[16]
Belajar berkata ‘‘Tidak’’
Setelah tahu prioritas, ternyata masih banyak orang gagal mengelola waktu, karena tidak bisa berkata TIDAK. Orang yang tidak berani berkata tidak bisa karena takut ditolak, sungkan, tidak tegas, tidak memiliki agenda dan target, tidak memiliki jadwal di dalam hidup. Untuk mencapai hidup yang maksimal, kita harus mengelola waktu sebaik mungkin. Karena itu, jika memang tidak perlu, belajarlah untuk berkata ‘‘tidak’’ atau menolah orang yang mau ketemu, mengakhiri meeting yang berkepanjangan yang bukan bagian kita.
Latih Tubuh Untuk Istirahat Optimal
            Kurangi jumlah tidur dan bekerja lebih banyak. Kurangi waktu tidur dan bergaul lebih banyak, karena pergaulan memperluas jaringan dan yang namanya teman tidak pernah cukup jumlahnya, dan teman selalu memberikan kontribusi positif. Latilah tubuh untuk tidur malam hari 6 jam saja, itu sudah lebih dari cukup. Karena itu persiapkan jam tidur dengan baik, supaya kualitas tidur kita bagus dan istirahat dengan maksimal.[17]
Hobby dan Kesenangan
Memang manusia butuh hiburan, namun jika kita dalam tahap awal meniti karir atau membangun usaha maka lakukanlah hobby yang sewajarnya. Terbaik jika kita hobby bekerja, bekerja adalah kesenangan kita. Cepat atau lambat pasti kita akan kaya, sukses, dan berhasil dengan pencapaian di atas rata-rata, lebih cepat dari orang lain.[18]
Rajin Pangkal Kaya
Setiap orang yang sukses, hidup maksimal terutama mereka yang mengawali hidup dari bawah, bukan yang mewarisi kekayaan atau kesuksesan orang tua, adalah mereka yang RAJIN. Waktu bagi setiap orang sama, 1 hari 24 jam, mereka yang rajin membuat waktu lebih produktif. Jadi, jika kita mau sukses, berhasil dan kaya maka rajin. Kita tidak bisa bermalas-malasan, buatlah diri kita antusias, bergairah dalam bekerja. Buatah mimpi-mimpi, cita-cita, atau yang hendak kita raih atau miliki.
















Daftar Pustaka
Lembaga Alkitab Indonesia ( LAI ) Perjanjian Baru.
Internet (www. academia.edu)
Internet (kingfeby.blogspot.com)
Gultom, Pujiati. 2014. Panduan PK2MB UKRIM 2014. Yogyakarta: UKRIM.
Wijarnako, Jarot. 2010. Hidup Maksimal. Banten: Happy Holy Kids.
Hulu, Yuprieli. 2006. Cermin Remaja 3. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Lane, Tim. 2011. Relasi Kekusutan yang Layak Dihadapi. Surabaya: Momentum.
Tomatala, Yakob. 1997. Kepemimpinan yang Dinamis. Malang: Gandum Mas.
Soehono, Agus. 2002. Hidup yang Berkenan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.






[1] Pujiati Gultom, Panduan PK2MB UKRIM2014 (Yogyakarta: UKRIM, 2014), 54.

[2] Agus Soehono, Hidup yang Berkenan ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 55.

[3] Yuprieli Hulu dan Flavianus Perta Teo, Cermin Remaja ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006 ), 16.


[4]Ibid., 17.

[5] Ibid.

[6] Tim Lane dan Paul Tripp, Relasi kekusutan yang layak dihadapi ( Surabaya: Momentum, 2011), 183-184.

[7] Jarot Wijanarko, Hidup Maksimal ( Banten: Happy Holy Kids, 2010), 44.

[8] Internet, Membagi Waktu Secara Efektif dan Efisien, kingfeby.blogspot.com.
[9]Internet, Membagi Waktu Secara Efektif dan Efisien, kingfeby.blogspot.com.

[10] Yakob Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis (Malang: Gandum Mas, 1997), 302.

[11] Ibid.

[12] Wijanarko, Hidup Maksimal ( Banten: Happy Holy Kids, 2010), 52.
[13] Internet, Membagi Waktu Secara Efektif dan Efisien, www.kingfeby.blogspot.com.


[14] Ibid.
[15] Internet, Tips Mengatur Waktu, www.academia.edu.

[16] Wijanarko, Hidup Maksimal ( Banten: Happy Holy Kids, 2010), 45-46.
[17] Wijanarko, Hidup Maksimal ( Banten: Happy Holy Kids, 2010), 48.

[18] Ibid.,50.