EVALUASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN
Dalam
makalah ini saya akan membahas mengenai evaluasi dalam Pendidikan Agama
Kristen. Mulai dari pengertian evaluasi, fungsi evaluasi, tujuan evaluasi PAK,
kedudukan evaluasi PAK, dan prinsip-prinsip evaluasi.
Pengertian Evaluasi Pendidikan
Agama Kristen
Menurut
Musel dalam bukunya pengajaran yang berhasil, evaluasi diartikan : penelitian
pekerjaan belajar untuk mengetahui persoalan-persoalan sulit yang melekat pada
proses belajar itu. Jadi disini evaluasi mengandung pengertian suatu “proses
penelitian yang dilakukan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan
yang terjadi pada proses belajar”. Dengan demikian proses evaluasi itu sendiri
harus memenuhi ketentuan-ketentuan penelitian yang berlaku. Sedangkan yang
dimaksud dengan belajar ialah proses yang mempunyai tujuan dan yang dilakukan
secara sadar.[1]
Menurut Winkel dalam bukunya Psikologi Belajar dan
Evaluasi Pendidikan : evaluasi diartikan “usaha untuk mengetahui sampai dimana
kegiatan pengajaran mencapai sasarannya. Dalam pengertian pengajaran terkandung
makna kesulitan-kesulitan apa yang diperoleh para siswa di dalam belajarnya
yang akhirnya akan diikuti bagaimana cara mengatasi kesulitan tersebut.
Jadi
menurut kedua pendapat tersebut di atas jelaslah bahwa kegiatan evaluasi itu
dimaksudkan untuk mengukur sampai dimana kegiatan proses belajar-mengajar yang
dilakukan oleh seseorang itu memperoleh hasil. Jadi Evaluasi PAK dimaksud
disini adalah suatu kegiatan untuk mengukur sampai dimana Pendidikan Agama
Kristen itu mencapai tujuan.[2]
Fungsi Evaluasi PAK
Bila
kita perhatikan baik di rumah, di sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat
akan selalu kita dapatkan kecenderungan seseorang untuk mengadakan evaluasi
terhadap hasil usaha yang telah dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Jadi
fungsi evaluasi yaitu member umpan balik pada guru mengenai program pengajaran
yang dilaksanakan untuk menentukan keberhasilan kemajuan belajar siswa. Untuk
menetapkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai minat dan
kemampuan siswa mengetahui latar belakang kesulitan belajar siswa.[3]
Contoh : Di rumah: seorang ibu atau ayah pasti akan
selalu melihat tahap-tahap dari perkembangan anaknya. Baik disadari atau tidak
disadari setiap orang ketemu dengan tetangganya atau sanak keluarga selalu akan
bertanya sudah dapat “apa” anakmu. Ini suatu gejala yang menunjukkan adanya
evaluasi meskipun belum tersusun dan terencana. Di sekolah: Adanya tes
formatif, tes sub sumatif, tes sumatif, EBTA atau UAN dan sebagainya. Di
Lingkungan Masyarakat : Pemimpin perkumpulan/Organisasi selalu mengadakan
evaluasi terhadap kegiatan perkumpulannya misalnya : dengan mengadakan
kunjungan persahabatan.
Tujuan Mengadakan Evaluasi
Tujuan
Pertama adalah Untuk mengetahui tingkat kemajuan anak. Bagi seorang guru tidak mungkin akan dapat membimbing anak
didiknya tanpa mengetahui tingkat-tingkat kemajuan dari anak didiknya. Pengetahuan
tentang tingkat kemajuan anak ini akan banyak manfaatnya bagi seorang guru. Dengan memiliki pengetahuan tentang
tingkat kemampuan anak didik, guru dapat mengetahui kedudukan anak di dalam
kelompoknya.
Dengan
demikian kita dapat memperkirakan apak anak didik kita termasuk anak yang
kurang atau anak yang cukup atau anak yang pandai. Dengan demikian guru akan
dapat membuat rencana yang tepat dan realisitis untuk mengarahkan masa depan
dari anak didiknya. Perencanaan yang tidak realistis akan mengakibatkan
kegagalan dalam mencapai masa depan yang baik bagi anak.[4]
Pengetahuan tentang tingkat kemajuan anak ini bila
digabungkan dengan kemampuan dasar dari anak dapat digunakan sebagai petunjuk
untuk memantau kesungguhan belajar anak, gambaran ini kita pergunakan
mengetahui sebab-sebabnya dan akhirnya guru atau orang tua dapat mencarikan
jalan keluarnya.[5]
Tujuan Kedua adalah Untuk mengetahui tingkat
efisiensi metode. Di dalam kegiatan
mendidik atau mengajar pasti kita akan menggunakan bermacam-macam metode
sedangkan kita tahu bahwa tidak setiap metode itu cocok atau tepat untuk kita
pergunakan di dalam kita mengajar, sehingga seorang guru harus mampu memilih
(menyeleksi) metode yang paling cocok untuk diterapkan di dalam kita mengajar
dengan memperhatikan bermacam-macam faktor seperti : sifat materi, sifat
kelompok anak didik, kecakapan guru dan sebagainya. Bukan sesuatu yang mustahil
apabila metode yang kita pilih ternyata tidak tepat. Tepat atau tidaknya dalam
memilih metode ini dapat kita ketahui dengan melalui evaluasi.
Kedudukan Evaluasi PAK
Terkadang
kita bingung menempatkan kedudukan evaluasi dalam kegiatan pendidikan. Saya
yakin kita sebagai pendidik paham benar apa arti evaluasi, namun apabila diminta
menghubungkan benang merah keduanya agak sulit. Bahasan ini akan menjadi
menarik apabila kita mengambil alat ukur etimologi dan filosofi pendidikan
sebagai pengukurannya agar diperoleh kajian yang tepat keduanya. Istilah
evaluasi berasal dari bahasa Inggris yakni Evaluation.[6]
Dalam buku Ensensialof Educational Evaluation yang
merupakan karangan Wanl dan Brown 1957 dikatakan bahwa evaluasi merupakan suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu. Sesuai
dengan pendapat tersebut maka evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya
dengan dunia pendidikan.[7]
Menurut Arifin evaluasi mengacu pada suatu tindakan
atau proses untuk menentukan nilai sesuatu. Sedangkan menurut Winternington
dalam Arifin 1988 mengatakan bahwa “An Evaluation is a Declaration that some
things has or does not have value”. Sehingga hal ini evaluasi menentukan apakah
sesuatu itu mempunyai atau tidak mempunyai nilai. Jadi, kedua rumusan diatas
dianalisis lebih lanjut maka ada dua hal pokok yang harus diperhatikan yaitu :
Pertama, bahwa evaluasi merupakan suatu tindakan.
Tindakan yang dimaksud yang dilakukan seseorang evaluator terhadap suatu
peristiwa atau keajaiban. Tindakan ini mengandung maksud untuk memberikan arti
atau makna dari kejadian itu sehingga dapat diproses lebih lanjut.[8]
Kedua, bahwa evaluasi dimaksudkan untuk
menentukan nilai sesuatu, sehingga hasil
dari evaluasi itu dapat menentukan apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau
tidak. Pada proses pendidikan evaluasi dilakukan untuk mengetahui keefektifan
pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang dilakukan serta untuk mengetahui
apakah kompetensi dasar dan tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai peserta
didik melalui pembelajaran.
Proses
pendidikan yang merupakan tranformasi kebudayaan dan peradaban menurut Dimiyati
dan Mujiono mewakili unsur – unsur yang meliputi: Pendidik dan persoalannya, isi
pendidikan, teknik, sistem evaluasi, sarana pendidikan, sistem administrasi.
Prinsip-Prinsip Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses, yakni
proses menentukan sampai berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa
dalam proses belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya
sudah ditetapkan secara operasional, selanjutnya juga ditetapkan patokan
pengukuran hingga dapat diperoleh penilaian. Karena itu dalam evaluasi
diperlukan prinsip – prinsip sebagai petunjuk agar dalam melaksanakan evaluasi
dapat lebih efektif. Prinsip – prinsip itu antara lain:
Kepastian
dan Kejelasan
Dalam proses evaluasi maka kepastian
dan kejelasan yang akan dievaluasi menduduki uarutan pertama. Eavaluasi akan
dapat dilaksanakan apabila tujuan evalusi tidak dirumuskan dulu secara jelas.
Dalam difinisi yang operasional bila kita ingin mengevaluasi kemajuan belajar
siswa maka kita pertama – tama difinisikan tujuan – tujuan intruksional
pengajaran dan barulah kita kembangkan alat evaluasinya. Dengan demikian
efektifitas alat evaluasi tergantung pada deskripsi yang jelas apa yang akan
kita evaluasi.[9]
Pada umumnya alat evaluasi dalam
pendidikan terutama pengajaran berupa test. Test itu mencerminkan
karakteristik/watak aspek yang akan diukur. Kalau kita akan mengevaluasi
tingkatan intelegensi siswa, maka komponen – komponen intelegensi itu harus
dirumuskan dengan jelas dan kemampuan belajar yang dicapai dirumuskan dengan
tepat, selanjutnya dikembangkan test sebagai evaluasi. Dengan demikian
keberhasilan evaluasi lebih banyak ditentukan kepada kemampuan guru (evaluator)
dlam merumuskan/mendefinisikan dengan jelas aspek – aspek individual kedalam
proses pendidikan.[10]
Teknik Evaluasi
Teknik evaluasi yang dipilih sesuai
dengan tujuan evaluasi hendaklah diingat bahwa tidak ada teknik evaluasi yang
cocok untuk semua keperluan dalam pendidikan termasuk evaluasi pendidikan agama
kristen. Tiap – tiap tujuan (pendidikan) yang ingin dicapai dikembangkan teknik
evaluasi tersendiri yang cocok dengan tujuan tersebut. Kecocokan antara tujuan
evaluasi dan teknik yang digunakan perlu dijadikan pertimbangan utama.
Komperhensif
Evaluasi yang komperhensif
memerlukan teknik evaluasi tunggal yang mampu mengukur tingkat kemampuan siswa
dlam belajar meskipun hanya dalam satu pertemuan jam pelajaran, sebab dalam
kenyataannya tiap – tiap teknik evaluasi mempunyai keterbatasan tersendiri. Tes
obyektif misalnya : akan memberikan bukti obyektif tentang tingkat kemampuan
siswa. Tetapi hanya memberikian informasi sedikit siswa tentang apakah ia
nbenar – benar mengerti tentang materi tersebut, apakah akan dapat
mengubah/mengembangkan sikapnya apabila menghadpai situai yang nyata dan
sebagainya.[11]
Lebih – lebih pada tes subyektif
yang penilaiannya lebih banyak tergantuk pada subyektifitas evaluasinya. Atas
dasar prinsip – prinsip inilah maka seyogyanya dalam proses belajar mengajar
untuk mengukur kemampuan belajar sisea digunakan teknik evaluasi yang
bervariasi. Bob houston seorang ahli evaluasi di Amerika Serikat/Texas
menyarankan untuk mendapatkan hasil yang lebih obyektif dalam evaluasi maka
variasi teknik tidak hanya dikembangkan dalam bentuk dan kuantitas saja,
evaluasi harus didasarkan pada data kuatitatif siswa yang diperoleh dari
evaluasi guru, kepala sekolah, catatan harian dan sebagainya.[12]
Kesadaran adanya kesalahan
pengukuran evaluator harus menyadari keterbatasan dan kelamahan dalam teknik
evaluasi yang digunakan. Atas dasar kesadaran ini maka dituntut untuk lebig
hati – hati dalam kenijakan – kebijakan yang diambil setelah melaksanakan
evaluasi. Evaluator menyadari bahwa dalam pengukuran yang dilaksanakan hanya
mengukur sebagian (sempel) saja dari suatu kompleksitas yang seharusnya diukur,
lagi pula pengukuran dilakukan hanya pada saat tertentu saja. Maka dapat
terjadi salah satu aspek yang sifatnya menonjol yang dimiliki sisa tidak
termasuk dalam sempel pengukuran. Inilah yang disebut sampling error dalam
evaluasi.
Sumber kesalahan / error yang lain
terletak pada alat/ instrumen yang digunakan dalam proses evaluasi. Penyusunan
alat – alat evaluasi tidak mudah lebih – lebih bila aspek yang diukur sifatnya
komplek.
Dalam skorsing sebagai data
kuantitatif yang diharapkan dapat mencerminkan obyektifitas tidak lupt dari
“error of measurement”. Test obyektifitas tidak lupt dari guessing, main terka,
untung – untungan sedangkan essay subyektifitas penilai masuk didalamnya.
Karena itu dalam laporan hasil evaluasi evaluator perlu melepaskan adanya
keslahan pengukuran ini. Pengukuran dengan test kesalahan pengukuran dpat
ditunjukan dengan koefesien kesalahan pengukuran.[13]
Evaluasi adalah alat bukan tujuan.
Evaluator menyadari sepenuhnya bahwa tiap – tiap teknik evaluasi digunakan
sesuai dengan tujuan evaluasi. Hasil evaluasi yang diperoleh tanpa tujuan
tertentu akan membuang waktu dan menyebabkan merugikan akan didik. Maka dari
itu yang perlu dirumuskan lebih dahulu ialah tujuan evaluasi, baru dari tujuan
ini dikembangkan teknik yang akan digunakan dan selanjtnya disusun test sebagai
alat evaluasi.
Jangan sampai terbalik, sebab tanpa
diketahui tujuan evaluasi daya yang diperoleh akan sia – sia. Atas dasar
pengertian tersebut diatas maka
kebijakan pendidikan yang akan diambil dirumuskan dulu dengan jelas sebelumnya
dipilih prosedur evaluasi yang digunakan dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Kritianto, Paulus. Prinsip dan Praktik PAK. Yogyakarta. ANDI Offset. 2006.
2.
Nainggolan, John. Menjadi Guru Agama Kristen. Bandung. Generasi Info Media. 2007.
3.
Widadiyono, Sri. Evaluasi PAK, Diktat Kuliah. Yogyakarta. UKRIM Yogyakarta. 2013.
4.
Heath, Stanley. Psikologis yang Sebenarnya. Yogyakarta. ANDI Offset.
5.
Mulyasa, H.E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung. Rosdakarya.
2014.
6.
Lebar, Lois. Education That Is Christian. Malang. Gandum Mas. 2006.
7.
Nasution, S. Sosiologi Pendidikan. Jakarta.
Bumi Aksara. 2004.
8.
Wibowo, Agus. Menjadi Guru Berkarakter. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2012.
9.
Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung. Rosdakarya. 2002.
10. Internet.
Evaluasi Pendidikan. www.akademiaedu.com
EVALUASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN
EVALUASI PEMEBELAJARAN PAK
Disusun
Oleh :
Nama : Kesia Pujianti Parlan
NIM : 1311100603
Prodi : Pendidikan Agama Kristen
FAKULTAS AGAMA KRISTEN
UNIVERSITAS KRISTEN IMMANUEL
YOGYAKARTA
MARET
2015
[1]Sri Widadiyono, Diktat Kuliah Evaluasi Pendidikan PAK (
UKRIM ).
[2]Sri Widadiyono, Diktat Kuliah Evaluasi Pendidikan PAK (
UKRIM ).
[3]Ibid.
[4]Mulyasa, H.E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013
(Bandung. Rosdakarya. 2014), 54.
[5]Ibid., 56.
[6]Kristianto,
Paulus. Prinsip dan Praktik PAK ( Yogyakarta.
ANDI Offset. 2006), 75.
[7]Lebar,
Lois. Education That Is Christian ( Malang. Gandum Mas. 2006 ), 43.
[8]Ibid., 45.
[9]Wibowo, Agus. Menjadi Guru Berkarakter ( Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2012), 65.
[10]Ibid., 67.
[11]Internet, Evaluasi Pendidikan, www.akademiaedu.com
[12]Internet, Evaluasi Pendidikan, www.akademiaedu.com
[13]Internet, Evaluasi Pendidikan, www.akademiaedu.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar