PERCERAIAN
Dalam makalah ini saya akan membahas mengenai
masalah perceraian yang kerap kali terjadi dalam kehidupan masyarakat sekarang
ini. Pembahasannya dimulai dari pengertian perceraian, faktor-faktor penyebab
perceraian, dampak perceraian, pandangan Alkitab mengenai perceraian, serta
langkah-langkah dalam menghindari percaraian.
Definisi Perceraian
Perceraian merupakan terputusnya keluarga karena salah satu atau
kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka berhenti
melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Situasi
dan kondisi menjelang perceraian yang diawali dengan proses negosiasi antara
pasangan suami istri yang berakibat pasangan tersebut sudah tidak bisa lagi
menghasilkan kesepakatan yang dapat memuaskan masing-masing pihak. Mereka
seolah-olah tidak dapat lagi mencari jalan keluar yang baik bagi mereka berdua.
Perasaan tersebut kemudian menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kedua
belah pihak yang membuat hubungan antara suami istri menjadi semakin jauh.[1]
Kondisi
ini semakin menghilangkan pujian serta penghargaan yang diberikan kepada suami
istri padahal pujian dan penghargaan tersebut merupakan dukungan emosional yang
sangat diperlukan dalam suatu perkawinan. Hal ini mengakibatkan hubungan suami
istri semakin jauh dan memburuk. Mereka semakin sulit untuk berbicara
dan berdiskusi bersama serta merundingkan segala masalah-masalah yang perlu
dicari jalan keluarnya. Masing-masing pihak kemudian merasa bahwa pasangannya
sebagai orang lain.[2]
Faktor-Faktor Penyebab Perceraian
Statistik
menunjukkan bahwa sekitar 60 persen dari semua kasus perceraian terjadi dalam
sepuluh tahun pertama perkawinan. Bahkan dengan maraknya perceraian yang dilakukan
oleh kaum selebriti, membuat bercerai menjadi masalah pilihan gaya hidup
semata. Angka perceraian terus melonjak. Ada beberapa faktor - faktor penyebab
perceraian antara lain adalah sebagai berikut.[3]
Ketidakharmonisan
dalam Rumah Tangga
Alasan
tersebut di atas adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan
suami-istri yang akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai
hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga.
Dengan kata lain, istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga memerlukan
perincian yang lebih mendetail.
Pernikahan
Tanpa Cinta
Alasan
lainnya yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri sebuah
perkawinan adalah bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa dilandasi
adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan tanpa cinta,
pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah sebenarnya, juga harus
berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam menghasilkan keputusan yang
terbaik.
Adanya
Masalah-Masalah dalam Perkawinan
Dalam
sebuah perkawinan pasti tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Masalah
dalam perkawinan itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi percekcokan yang
berlarut-larut dan tidak dapat didamaikan lagi secara otomatis akan disusul
dengan pisah ranjang. Langkah pertama dalam menanggulangi sebuah masalah
perkawinan adalah adanya keterbukaan antara suami-istri, berusaha untuk
menghargai pasangan, jika dalam keluarga ada masalah, sebaiknya diselesaikan
secara baik-baik, saling menyayangi antara pasangan.
Dampak Perceraian
Segala sesuatu yang dilakukan pasti mempunyai
dampak, baik berdampak positif maupun berdampak negatif. Sebuah perceraian yang
dilakukan oleh sepasang suami isteri akan berdampak bagi mereka sendiri maupun
anak-anak mereka jika mereka sudah memiliki anak. Ada beberapa dampak dari
perceraian antara lain, traumatik, perubahan peran dan status, dan sulitnya
penyesuaian diri.[4]
Traumatik
Setiap perubahan akan mengakibatkan stres pada orang yang
mengalami perubahan tersebut. Sebuah keluarga melakukan penyesuaian diri
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, seperti pindah rumah atau lahirnya
seorang bayi dan kekacauan kecil lainnya, namun keretakan yang terjadi pada
keluarga dapat menyebabkan luka-luka emosional yang mendalam dan butuh waktu
bertahun-tahun untuk penyembuhan. Dampak traumatik dari perceraian biasanya
lebih besar dari pada dampak kematian, karena sebelum dan sesudah perceraian
sudah timbul rasa sakit dan tekanan emosional, serta mengakibatkan cela sosial.[5]
Perubahan Peran dan Status
Efek yang
paling jelas dari perceraian akan mengubah peranan dan status seseorang yaitu
dari istri menjadi janda dan suami menjadi duda dan hidup sendiri, serta
menyebabkan pengujian ulang terhadap identitas mereka. Baik pria mupun wanita
yang bercerai merasa tidak menentu dan kabur setelah terjadi perceraian.
terutama bagi pihak wanita yang sebelum bercerai identitasnya sangat tergantung
pada suami. Hal ini karena orang-orang yang bercerai seringkali menilai
kegagalan perkawinan mereka sebagai kebebalan personal. Mereka mencoba untuk
mengintegrasikan kegagalan perkawinan dengan definisi personal mereka tentang
maskulinitas ataupun feminitas, kemampuan mereka dalam mencintai seseorang, dan
aspirasi mereka untuk menjalankan peran sebagai suami, istri, bapak, ibu dari
pada anak-anak.[6]
Sulitnya Penyesuaian Diri
Beberapa
individu, tidak pernah dapat menyesuaikan diri dengan perceraian. Individu itu
bereaksi terhadap perceraiannya dengan mengalami depresi yang sangat dan
kesedihan yang mendalam, bahkan dalam beberapa kasus, sampai pada taraf bunuh
diri. Bagaimanapun, tidak semua pasangan yang bercerai mengakhirinya dengan
permusuhan. Beberapa diantaranya masih tetap berteman dan memelihara hubungan
dengan lain pihak melalui minat yang sama terhadap anak-anaknya.
Dampak
perceraian khususnya sangat berpengaruh pada anak-anak. Kenyataan ini yang
sering kali terlupakan oleh pasangan yang hendak bercerai. Perceraian
menyebabkan problem penyesuaian bagi anak-anak. Situasi perceraian ini,
khususnya jika anak-anak memandang bahwa kehidupan keluarganya selama ini sangat
bahagia, dapat menjadi situasi yang mengacaukan kognitifnya. Masa ketika
perceraian terjadi merupakan masa kritis buat anak, terutama menyangkut
hubungan dengan orangtua yang tinggal bersama. Pada masa ini anak harus
mulai beradaptasi dengan perubahan hidupnya yang baru. Proses adaptasi pada
umumnya membutuhkan waktu. Pada awalnya anak akan sulit menerima kenyataan
bahwa orang tuanya tidak bersama lagi.[7]
Dampak Perceraian Pada Anak
Perceraian tak hanya berdampak pada
pasangan suami istri (pasutri), perceraian juga berdampak buruk pada si buah
hati. Bukan hanya hak asuh yang menjadi permasalahan, faktor psikologis anak
juga harus dipertimbangkan. Banyak masalah yang akan dihadapi anak
pascaperceraian. Perceraian dapat menimbulkan dampak serius karena adanya
perubahan kondisi finansial, tempat tinggal, dan hilangnya kontak dengan orang
tua kandung akan berpengaruh pada sumber daya ekonomi dan sosial. Menurut
beberapa ahli bahwa permasalahan yang paling penting adalah bahwa anak tidak
lagi tinggal dengan kedua orang tua kandungnya. Hal ini akan berpotensi
menimbulkan banyak masalah baru dalam kelanjutannya.[8]
Biasanya anak paling tidak siap
dengan perpisahan orang tua. Malah banyak anak yang depresi gara-gara
perceraian. Ujungnya, anak menjadi terlalu emosional dan akan melakukan hal-hal
untuk menarik perhatian. Biasanya mereka mulai melakukan hal-hal buruk seperti
merokok, salah gaul, hingga kecanduan narkoba. Itu adalah beberapa bentuk
pelarian yang negatif. Dalam kasus perceraian, anak juga akan mengalami dilema
antara memilih ibu atau ayahnya. Bisa saja saat mereka bersama ayah, yang
terpikir justru kebersamaan tersebut akan menyakiti perasaan ibunya. Atau
mungkin timbul pertanyaan bagaimana jika mereka hanya menyayangi salah satu
orang tuanya.[9]
Pandangan
Alkitab Mengenai Perceraian
Seperti Kita Ketahui Perceraian merupakan sebuah
pelanggaran yang di buat manusia. Pelanggaran yang dimaksud adalah melanggar
sebuah ketetapan atau visi Allah terhadappernikahan.Di sisi
lain perceraian sebuah serangan kepada standar Allah , merupakan penghancuran
rencana Allah terhadap pernikahan. Allah telah mengatur sedemikiaan rupa kepada
manusia supaya mereka dapat hidup dalam pernikahan monogami. Monogami yang
dimaksud adalah seseorang hanya boleh memiliki satu istri atau satu suami.[10]
Pada Matius 19 :6 disebutkan “ Demikianlah
mereka bukan lagi dua ,melainkan. Karena itu, apa yang telah dipersatukan
Allah tidak boleh diceraikan manusia”. Roma 7 :2 “ Sebab seorang istri terikat
oleh hukum kepada suaminya selama suaminya hidup.Akantetapi jika suaminya
telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah hukum yang
mengikatnya kepada suaminya itu”. Dari kedua ayat tersebut kita dapat melihat
bahwa pasangan Kristen terikat dalam satu komitmen pernikahan monogami terutama
di dalam ayat kedua. Kata lain tidak ada orang kedua, ketiga,dan lain-lain
dalam kehidupan mereka . Walaupun ada permasalahan seberat apapun dan membuat
seseorang berpisah dengan pasangannya.[11]
Allah
sangat mengutuk sebuah perceraian dilakukan manusia. Allah tidak pernah
menyetujui perceraian dengan alasan apapun. Terutama berhubungan dengan orang
lain bukan suami / istrinya . Mereka telah berzinah dengan orang lain dan itu
sangat menyakitkan bagi Allah. Allah juga tidak pernah membenarkan adanya
perceraian di dalam kehidupan manusia. Sesungguhnya tidak ada dasar yang tepat
untuk perceraian terlebih berzinah. Zinah adalah sebuah dosa serta munculnya
perkataan perzinahaan sebagai pembenaran perceraian yang memiliki arti
pembenaran untuk perceraian. Semuanya itu dinyatakan dalam Lukas 16 : 18
“Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia
berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya,
ia berbuat zinah”.
Langkah-Langkah
Menghindari Perceraian
Pertama
mereka harus melakukan sebuah konseling ketika menjalani sebuah pertikaian yang
menuju perceraian. Sebaiknya mereka menunjuk konselor yang benar-benar mengenal
mereka dengan baik. Lebih baiknya dia adalah pembimbing rohani yang bisa
melakukan sesuatu sesuai ajaran Kristen. Sehingga kita tidak salah dalam
membuat keputusan dalam hidup kita. Ceritakan seluruh ganjalan dalam hati yang
dimiliki diri sendiri. Janganlah menutupi-nutupi yang hanya bisa menjadi sebuah
kepahitan dan tidak menyelesaikan permasalahan. Jika konseling bersama
menimbulkan sebuah pertikaian, konselinglah secara sendiri-sendiri. Jika mereka
telah melakukan konseling dengarkan konselor cara terbaik untuk mengatasi
masalah.[12]
Hal
paling penting ialah mencari atau mengejar hadirat Allah di dalam hidup
kita. Seorang Kristen semestinya berseru
kepada Allah bukan kepada lainnya saat menghadapi kesulitan hidup. Kita tidak
dapat mengandalkan kekuatan sendiri sebab kekuatan manusia itu terbatas. Mulailah
bersekutu pribadi dengan Allah setiap saat . Dengan cara menaikkan penyembahan
kepada Allah dengan sungguh-sungguh serta hati yang tulus. Setiap kali
melakukan penyembahan lakukan penyembahan yang terbaik kepada Tuhan.[13]
Kedua
berdoa meminta pentujuk dari Tuhan atau meminta Kepada-Nya untuk menyatakan
yang ingin menjadi Kehendak-Nya. Apa yang mau Tuhan Kerjakan dalam hidup kita
selama menjalani kehidupan yang sulit. Berdoalah dengan setia sampai Tuhan
benar-benar menyatakan seluruh yang Tuhan kehendaki serta menjadi kerinduan
kita masing-masing. Ketiga membaca Firman Tuhan sebagai pedoman kita umat
percaya. Melalui membaca Firman kita dikuatkan saat menghadapai masa-masa
sukar. Firmannya juga memberikan damai sejahtera kepada kita.[14]
DAFTAR PUSTAKA
Lembaga Alkitab Indonesia. (LAI). 2011.
Ali, Mohammad. Psikologi Anak. Jakarta :
Media Grafika. 2008
Ahmadi, Abu. Psikologi Sosial. Jakarta : PT
Rineka Cipta. 2002
________. Psikologi Perkembangan, Jakarta : PT Rineka
Cipta. 2005
Marx, Dorothy. Itu
‘Kan Boleh?. Bandung: Yayasan Kalam Hidup
Trisna, Jonathan. Pernikahan
Kristen. Jakarta: Institut Teologia dan Keguruan Indonesia. 2000
Octavianus, P. Membangun
Rumah Tangga Bahagia. Malang: Gandum Mas
[1]Abu
Ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), 34.
[2]Ibid.
[3]Ibid., 43.
[7]Mohammad
Ali, Psikologi Perkembangan (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2005), 39.
[8]Mohammad Ali, Psikologi
Anak, (Jakarta: Media
Grafika, 2008), 57.
[9]Ibid.,60.
[10]Jonathan Trisna, Pernikahan Kristen (Jakarta: Institut Teologia dan Keguruan
Indonesia, 2000), 25.
[11]Ibid., 26.
[12]Octavianus, Membangun Rumah Tangga Bahagia (Malang: Gandum Mas), 54.
[13]Ibid., 55.
[14]Ibid., 56.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar