Rabu, 20 Mei 2015

Cara Berpenampilan yang Baik menurut Kristen


BERPENAMPILAN YANG BAIK
Dalam karya tulis ini, saya akan menyajikan beberapa pembahasan mengenai cara berpenampilan yang baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan-pembahasan saya tersebut meliputi definisi tata karma berbusana dan bergaul, faktor penyebab korban mode, etika dalam berpakaian, apakah wanita harus memakai tudung kepala, serta penampilan apa yang membuat cantik.
Pengertian Tata Krama Berbusana dan Bergaul
Tata krama berbusana dan bergaul adalah sopan santun yangditunjukan seseorang saat berpakaian dan cara bergaul. Krama merupakan tata cara yang lahir dalam hubungan antar manusia. Proses Memilih Busana yang Tepat Cara berbusana seseorang sangat ditentukan oleh kepribadian, pergaulan, dan lingkungan disekitarnya. Cara berpakaian seseorang tergantung pada waktu, tempat, sifat pertemuan, dan siapa yang mengundang.[1]
Faktor Penyebab Korban Mode
Mayoritas remaja di Indonesia mudah terpengaruh denganera globalisasi. Seseorang yang mengikuti mode yang sedang populer tanpa memikirkan efek sampingnya. Penggunaan pakaian santai di dalam dan di luar rumah pakaian santai yang kita gunakan saat diluar rumah, harus lebih sopan dari pakaian santai yang kita gunakan di dalam rumah. Bahan pakaian yang digunakan saat diluar rumah harus lebih tebal dan tertutup daripada pakaian saat berada di dalam rumah.[2]
Etika Dalam Berpakaian
Manusia membutuhkan pakaian (sandang) untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dasar sehari-hari di samping kebutuhan akan tempat tinggal (papan) dan makanan (pangan). Pakaian dapat memberikan keindahan, proteksi dari penyakit, kenyamanan, dan lain sebagainya. Tanpa baju/pakaian dapat mengakibatkan seseorang dikatakan gila.[3]

Menutup Aurat Bagian Tubuh
Saat ini banyak kita jumpai gadis dan wanita yang tidak menutup aurat dengan bajunya, sehingga dapat memunculkan rangsangan kepada kaum laki-laki yang melihatnya. Ada banyak pilihan pakaian yang tertutup dan sopan yang bisa digunakan tanpa mengurangi kecantikan perempuan. Seharusnya pemerintah memberikan teguran dan hukuman bagi orang-orang yang mengumbar tubuh.[4]

Dengan Tujuan, Situasi dan Kondisi Lingkungan
Jika ingin sekolah gunakanlah pakaian seragam sekolah, bukan pakaian untuk tidur (piyama), renang, kerja, dan lain-lain. Apabila suhu di luar rumah sangat dingin, gunakanlah jaket  yang tebal, bukan memakai pakaian tipis. Pakaian yang dipakai sebaiknya pakaian yang telah dicuci bersih, disetrika rapi dan jika dipakai tidak kebesaran maupun kekecilan. Pakaian yang kotor merupakan sarang penyakit bagi kita diri sendiri maupun kepada oang lain yang ada di sekitarnya.[5]

Tidak Mengganggu Orang Lain
Pakailah baju-baju yang biasa-biasa saja tidak mengganggu akivitas maupun kenyamanan orang lain. Misalnya menggunakan gaun wanita dengan ekor puluhan meter sangat tidak pantas jika kita gunakan di tempat seperti di bus umum.

Melanggar Hukum Negara dan Hukum Agama
Sebelum memakai pakaian ada baiknya diingat-ingat dulu hukum di dalam maupun di luar negeri. Hindari memakai pakaian yang bertentangan dengan adat istiadat, hukum budaya yang berlaku di tempat tersebut. Di mana bumi di pajak, di situ langit di junjung.
Apakah Wanita Kristen Harus Memakai Tudung Kepala?
Memang benar, pada zaman Paulus menulis surat-suratnya, tradisi yang berlaku diwaktu itu adalah wanita harus menudungi kepalanya untuk menunjukkan kesopanan dan sikap tunduk kepada suaminya dan demi menyatakan martabatnya. Tudung itu mengandung arti bahwa ia harus dihormati dan dihargai sebagai seorang wanita. Pada zaman itu orang Yahudi merasa tidak wajar jika seorang wanita memperlihatkan diri dimuka umum tanpa mengenakan tudung dikepalanya.[6]
Dalam tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus, Paulus mulai mengingatkan kebiasaan wanita yang harus menggunakan tudung dikepalanya dalam persekutuan ibadah, karena tampaknya kebiasaan tersebut mulai di hilangkan khususnya oleh wanita-wanita di jemaat Korintus. Kondisi dimana wanita-wanita di jemaat Korintus mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan tudung kepala dalam persekutuan-persekutuan jemaat, mulai menjadi persoalan umat yang kemudian mengajukan permasalahan tersebut kepada Paulus.[7]
Hal yang kini sering dipertanyakan yaitu, apakah pengajaran Paulus tentang seorang wanita harus menggunakan tudung kepala dalam peribadatan, adalah aturan yang berlaku sampai sekarang ini, atau hanya dalam situasi yang berlaku pada kebiasaan jemaat dizaman itu karena berkaitan dengan tradisi..? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka terlebih dahulu kita pelajari latar belakang atau konteks 1 Korintus 11. Tulisan Paulus dalam 1 Korintus 11 khususnya ayat 2 sampai 4 berkaitan dengan permasalahan yang terjadi dalam jemaat Korintus. Jemaat Korintus pada saat itu terpecah-pecah akibat permasalahan tentang pakaian liturgis dalam peribadatan.[8]
Disinilah Paulus datang dengan nasihat-nasihatnya untuk menjaga keutuhan jemaat, khususnya dalam permasalahan tentang pakaian liturgis yang dikenakan dalam peribadatan. Memang dalam bagian lain dari surat-suratnya, Paulus sering menekankan bahwa ibadah yang terpenting adalah ibadah dalam roh dan kebenaran, bukan masalah-masalah lahiriah seperti masalah pakaian liturgis dalam peribadatan. Namun untuk menyelesaiakan masalah ini, tentu Paulus memberikan nasehat-nasehatnya yang dikaitkan dengan kulturitas budaya setempat.[9]
Pada ayat 4 dan 5, Paulus memberi komentar mengenai penampilan yang tepat bagi laki- laki dan perempuan. Jelas sekali bisa kita lihat Paulus mengenal sekali Perempuan dan laki-laki di Korintus memegang peranan dalam pemimpinan Liturgi. Banyak problem di jemaat Korintus muncul karena sikap acuh-tak-acuh terhadap hal-hal fisik dan kelakukan yang baik. Paulus secara khusus mendorong jemaat agar menghargai secara benar perbedaan seks, menyebutkan kegagalan menghargai perbedaan, dan berdosa (lihat Roma 1:24-27). Komentar Paulus terhadap jemaat Korintus mengenai pakaian ibadah ini berlatar belakang pada pandangan tersebut.
Kegagalan menghargai hikmat praktek biasa mengenai pakaian bisa membawa kepada pelecehan yang lebih serius terhadap kewibawaan dan kebebasan Kristen, dan merusak tujuan sesungguhnya dari berkumpul bersama dalam pertemuan liturgi untuk beribadah. Paulus juga menganjurkan damai sejahtera dan keseimbangan dalam mengatur karunia-karunia roh (1 Korintus 14:1-40), ia menganjurkan kepada laki-laki dan perempuan berpakaian layak dalam perayaan liturgi agar dapat membersembahkan kurban yang layak kepada Allah.
 Pertama-tama Paulus memuji jemaat Korintus karena teguh pada tadisi yang telah ia ajarkan, kemudian Paulus mengingatkan mereka akan kewibawaan sebagai umat Kristus, kendati masalah berpakaian tidak begitu penting. Peulus menghargai jemaat Korintus, akan tetapi untuk pelanggaran yang lebih berat dari kasih bahkan dalam perjamuan Tuhan Paulus tidak memuji mereka: “Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.”
Dalam 1 Korintus ayat 11-12 seolah-oleh Paulus sangat menekankan Perempuan harus memakai penutup kepala, tetapi pandangan ini didukung oleh pemikiran akal sehat waktu itu bahwa sebaiknya ada perbedaan cara berpakaian antara laki-laki dan perempuan. Ini penting pada masa itu sebab umat Kristus harus berbeda penampilannya dengan orang-orang yang tidak mengenal Kristus.
Mengapa Perempuan ditekankan harus memanjangkan rambutnya dan menutup kepada dalam ibadah-ibadah sebagai "tanda" kewibawaan Allah?Sebab, latar-belakang budaya saat itu, apabila seorang perempuan tidak menggunakan tutup kepala, artinya ia adalah seorang perempuan yang "tersedia bagi siapapun", dan perempuan yang memotong rambutnya itu identik dengan kaum lesbian. Seluruh ayat dalam 1 Korintus 11:2-16 mengemukakan usaha Paulus untuk mengingatkan jemaat di Korintus terhadap perpecahan, persaingan yang mungkin muncul dalam pertemuan2 ibadah lain yang tidak dapat diterima oleh jemaat Korintus dalam konteks liturgi.
Ketika umat Kristus perempuan berpakaian layak dengan tutup kepala sebagai tanda bahwa perempuan itu adalah perempuan baik-baik, maka perempuan itu tidak bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Unsur sandungan itu harus dihindari, sebab perempuan memainkan peranan besar dalam ibadah-ibadah kafir. Dari penjelasan diatas, jelas sekali anjuran untuk menutup kepala bagi perempuan adalah berkaitan dengan latar belakang budaya masa itu, anjuran itu justru melindungi kaum perempuan, agar mereka tidak dianggap pelacur karena kepalanya tidak bertudung dan memanjangkan rambutnya agar tidak dianggap lesbian.
Kesaksian umat Kristus juga harus diungkapkan secara lahiriah meskipun ibadah kita menekankan ibadah dalam roh dan kebenaran. Melihat konteks atau latar belakang dari 1 Korintus 11, apakah nasihat Paulus ini harus menjadi rujukan pada jemaat di zaman ini ? Tentu saja tidak.. Kita harus menimbang konteks suatu ayat, apakah hal tersebut ditujukan kepada kita dan harus kita laksanakan atau bukan.
Banyak contoh dalam Alkitab yang Allah mau kita "ketahui" namun tidak secara langsung ditujukan kepada kita secara pribadi. Misalnya hukum Taurat. Hukum Taurat itu ditujukan "langsung" kepada bangsa Israel (spesifik untuk Israel). Hukum Taurat (Perjanjian Lama) adalah firman Allah yang diilhamkan sepenuhnya "bagi" umat Kristiani masa kini, namun bukanlah sebagai perintah Allah yang langsung "kepada" umat Kristiani. Sebab umat percaya tidak lagi dibawa kuk Hukum Taurat, karena Hukum Taurat telah digenapi oleh Yesus Kristus. Demikian pula dalam membaca anjuran yang diberikan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 11 diatas.
Ajaran Rasul Paulus diatas amat berharga bagi orang Kristen dan kita perlu membaca/merenungkan tentang anjuran itu yang pada saat itu perlu ditaati oleh jemaat di Korintus, namun itu bukanlah aturan bagi kita yang hidup dalam budaya yang berbeda dengan jemaat pada zaman itu. Ibadah yang terpenting adalah dalam Roh dan bukan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah. Yohanes 4:23-24 mengatakan “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Roma 12:1 juga mengatakan “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
                                 Penampilan Seperti Apa yang Membuat Cantik?      
Orang-orang atau para artis yang menghirup “udara” industri modeling, tari dan hiburan layaknya juga olahraga seperti senam, ice skating, dan balapan dituntut keras untuk memelihara penampilan, bentuk, dan bobot tubuhnya. Melihat mereka akan membuat kita berusaha untuk mencapai standar yang sama. Tapi hal itu jelas tidak mungkin. Apakah kita mempunyai waktu untuk berolahraga lima jam sehari? Pemikiran kita akan berubah ketika kita melihat pada kenyataan bahwa Tuhanlah yang menciptakan kita dan tidak diharuskan terlihat seperti orang lain.[10]
Tuhan telah memberikan tubuh untuk kita. Dia betul-betul menginginkan kita sebagai seorang individu, buka dua tubuh yang benar-benar sama. Bagaimanapun kita memiliki tubuh yang dibagi dalam tiga kategori utama, yaitu: endomorfosis, mesomorfosis, dan ektomorfosis. Namun dalam tiga kategori dasar ini, ada jutaan tulang-tulang yang lebih kecil. Bahu yang menyempit dan pinggul yang melebar, lengan yang langsing dengan pergelangan kaki yang besar, betis yang langsing dengan kaki yang lebar, itulah yang dibentuk Tuhan untuk kita. Tidak ada bentuk tubuh yang benar atau salah. Tiap orang dibentuk sesuai dengan rencana Tuhan. Jadi penampilan apa yang membuat kita cantik?[11]
Terimalah Diri Kita yang Tak Terbandingkan
Jika para gadis membandingkan tubuh mereka dengan orang lain dan memutuskan untuk habis-habisan mengubah diri mereka atau membentuk kembali diri mereka, mereka akan mengetahui bahwa tidak ada diet atau olahraga yang bisa mengubah penampilan dasar atau tipe/jenis tubuh mereka. Para gadis yang terobsesi dan memaksa mengubah bentuk tubuh secara berlebihan dapat membuat mereka mendeita sakit bulimia.[12]
Tuhan telah menciptakan tubuh untuk bekerja secara seimbang. Memuntahkan makanan, diuretic, obat pencahar, olahraga yang dipaksakan, diet dan makan yang berlebihan akan mengacaukan keseimbangan ini. Hal ini akan membahayakan tubuh kita sendiri. Kita bisa memilih dan menerima diri kita yang cantik yang telah diciptakan Tuhan dan bersyukur atas kemampuan unik, talenta dan berkat spiritual yang telah diberikan Bapamu yang disurga. Kita bisa berfokus pada kebenaran bahwa kita merupakan anak Tuhan yang dibentukNya dengan sangat sempurna.[13]
Merasa Cantik Luar dan Dalam
Semua manusia memiliki lapisan lemak antara kulit dan otot. Ketika tubuh mulai matang saat dewasa, lapisan lemak tersebut bertambah. Itu hal yang normal. Itu adalah bentukan Tuhan bagi kita memperoleh bobot pada area yang pinggul dan dada. Salah satu hal yang dilakukan oleh para gadis adalah mengenakan sesuatu yang ketat sehingga membuat diri mereka merasa gemuk. Itu tidak normal. Terobsesi untuk memperbesar atau menyusutkan ukuran tubuh, bukanlah sebuah pemikiran yang.[14]
Kesimpulan
 Perkembangan zaman modern dapat dengan mudah mempengaruhi tata krama berbusana dan bergaul pada kalanganremaja di Indonesia. Faktor dari pergaulan, lingkungan, dan orang tuajuga dapat mempengaruhi tata krama berbusana dan bergaul. Saran berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat diajukan beberapa saran yaitu: Seharusnya kalangan remaja lebih meningkatkan kualitas keimanan, lebih memperhatikan dampak dari adanya perkembangan zaman serta bisa membedakan teman yang baik dan buruk.



















DAFTAR PUSTAKA
Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
Godam. www.organisasi.Org. 2010.
Motik , Dewi. Tata Krama Berbusana dan Bergaul. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1991.
Stephen, Andrea. Glamour Girl. Yogyakarta: ANDI, 2006.
Tanya jawab Kristen, http://bet-midrash.blogspot.com.
Godam, “Etika Dalam Berpakaian”  www. gelorafirman.com.






[1] Dewi Motik , Tata Krama Berbusana dan Bergaul ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1991),  9.

[2]Ibid

[3]Godam, “Etika Dalam Berpakaian,” www. gelorafirman.com

[4] Ibid

[5] Ibid
[6] Tanya jawab Kristen, http://bet-midrash.blogspot.com.

[7]Ibid.

[8]Ibid.

[9]Ibid.
[10]Andrea Stephens, Glamour Girl (Yogyakarta: ANDI, 2006), 6.

[11]Ibid.
[12]Ibid., 7.

[13]Ibid., 11.

[14]Ibid., 13. 

1 komentar: