BERPENAMPILAN YANG BAIK
Dalam
karya tulis ini, saya akan menyajikan beberapa pembahasan mengenai cara
berpenampilan yang baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan-pembahasan saya tersebut meliputi definisi tata karma berbusana dan
bergaul, faktor penyebab korban mode, etika dalam berpakaian, apakah wanita
harus memakai tudung kepala, serta penampilan apa yang membuat cantik.
Pengertian
Tata Krama Berbusana dan Bergaul
Tata krama berbusana dan bergaul adalah sopan santun
yangditunjukan seseorang saat berpakaian dan cara bergaul. Krama merupakan tata
cara yang lahir dalam hubungan antar manusia. Proses Memilih Busana yang Tepat
Cara berbusana seseorang sangat ditentukan oleh kepribadian, pergaulan, dan
lingkungan disekitarnya. Cara berpakaian seseorang tergantung pada waktu,
tempat, sifat pertemuan, dan siapa yang mengundang.[1]
Faktor
Penyebab Korban Mode
Mayoritas remaja di Indonesia mudah terpengaruh
denganera globalisasi. Seseorang yang mengikuti mode yang sedang populer tanpa
memikirkan efek sampingnya. Penggunaan pakaian santai di dalam dan di luar
rumah pakaian santai yang kita gunakan saat diluar rumah, harus lebih sopan
dari pakaian santai yang kita gunakan di dalam rumah. Bahan pakaian yang
digunakan saat diluar rumah harus lebih tebal dan tertutup daripada pakaian saat
berada di dalam rumah.[2]
Etika Dalam Berpakaian
Manusia membutuhkan
pakaian (sandang) untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dasar sehari-hari di
samping kebutuhan akan tempat tinggal (papan) dan makanan (pangan). Pakaian
dapat memberikan keindahan, proteksi dari penyakit, kenyamanan, dan lain
sebagainya. Tanpa baju/pakaian dapat mengakibatkan seseorang dikatakan gila.[3]
Menutup Aurat Bagian Tubuh
Saat ini banyak kita
jumpai gadis dan wanita yang tidak menutup aurat dengan bajunya, sehingga dapat
memunculkan rangsangan kepada kaum laki-laki yang melihatnya. Ada banyak
pilihan pakaian yang tertutup dan sopan yang bisa digunakan tanpa mengurangi
kecantikan perempuan. Seharusnya pemerintah memberikan teguran dan hukuman bagi
orang-orang yang mengumbar tubuh.[4]
Dengan Tujuan, Situasi dan Kondisi Lingkungan
Jika ingin sekolah
gunakanlah pakaian seragam sekolah, bukan pakaian untuk tidur (piyama), renang,
kerja, dan lain-lain. Apabila suhu di luar rumah sangat dingin, gunakanlah jaket
yang tebal, bukan memakai pakaian tipis.
Pakaian yang dipakai sebaiknya pakaian yang telah dicuci bersih, disetrika rapi
dan jika dipakai tidak kebesaran maupun kekecilan. Pakaian yang kotor merupakan
sarang penyakit bagi kita diri sendiri maupun kepada oang lain yang ada di
sekitarnya.[5]
Tidak
Mengganggu Orang Lain
Pakailah baju-baju yang
biasa-biasa saja tidak mengganggu akivitas maupun kenyamanan orang lain.
Misalnya menggunakan gaun wanita dengan ekor puluhan meter sangat tidak pantas
jika kita gunakan di tempat seperti di bus umum.
Melanggar Hukum Negara dan Hukum Agama
Sebelum memakai pakaian ada baiknya diingat-ingat dulu hukum di dalam
maupun di luar negeri. Hindari memakai pakaian yang bertentangan dengan adat
istiadat, hukum budaya yang berlaku di tempat tersebut. Di mana bumi di pajak,
di situ langit di junjung.
Apakah Wanita Kristen Harus Memakai
Tudung Kepala?
Memang benar, pada zaman Paulus menulis
surat-suratnya, tradisi yang berlaku diwaktu itu adalah wanita harus menudungi
kepalanya untuk menunjukkan kesopanan dan sikap tunduk kepada suaminya dan demi
menyatakan martabatnya. Tudung itu mengandung arti bahwa ia harus dihormati dan
dihargai sebagai seorang wanita. Pada zaman itu orang Yahudi merasa tidak wajar
jika seorang wanita memperlihatkan diri dimuka umum tanpa mengenakan tudung
dikepalanya.[6]
Dalam tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus, Paulus
mulai mengingatkan kebiasaan wanita yang harus menggunakan tudung dikepalanya
dalam persekutuan ibadah, karena tampaknya kebiasaan tersebut mulai di
hilangkan khususnya oleh wanita-wanita di jemaat Korintus. Kondisi dimana
wanita-wanita di jemaat Korintus mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan
tudung kepala dalam persekutuan-persekutuan jemaat, mulai menjadi persoalan
umat yang kemudian mengajukan permasalahan tersebut kepada Paulus.[7]
Hal yang kini sering dipertanyakan yaitu, apakah
pengajaran Paulus tentang seorang wanita harus menggunakan tudung kepala dalam
peribadatan, adalah aturan yang berlaku sampai sekarang ini, atau hanya dalam
situasi yang berlaku pada kebiasaan jemaat dizaman itu karena berkaitan dengan
tradisi..? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka terlebih dahulu kita pelajari
latar belakang atau konteks 1 Korintus 11. Tulisan Paulus dalam 1 Korintus 11
khususnya ayat 2 sampai 4 berkaitan dengan permasalahan yang terjadi dalam
jemaat Korintus. Jemaat Korintus pada saat itu terpecah-pecah akibat
permasalahan tentang pakaian liturgis dalam peribadatan.[8]
Disinilah Paulus datang dengan nasihat-nasihatnya
untuk menjaga keutuhan jemaat, khususnya dalam permasalahan tentang pakaian liturgis
yang dikenakan dalam peribadatan. Memang dalam bagian lain dari surat-suratnya,
Paulus sering menekankan bahwa ibadah yang terpenting adalah ibadah dalam roh
dan kebenaran, bukan masalah-masalah lahiriah seperti masalah pakaian liturgis
dalam peribadatan. Namun untuk menyelesaiakan masalah ini, tentu Paulus
memberikan nasehat-nasehatnya yang dikaitkan dengan kulturitas budaya setempat.[9]
Pada ayat 4 dan 5, Paulus memberi komentar mengenai
penampilan yang tepat bagi laki- laki dan perempuan. Jelas sekali bisa kita
lihat Paulus mengenal sekali Perempuan dan laki-laki di Korintus memegang
peranan dalam pemimpinan Liturgi. Banyak problem di jemaat Korintus muncul
karena sikap acuh-tak-acuh terhadap hal-hal fisik dan kelakukan yang baik.
Paulus secara khusus mendorong jemaat agar menghargai secara benar perbedaan
seks, menyebutkan kegagalan menghargai perbedaan, dan berdosa (lihat Roma
1:24-27). Komentar Paulus terhadap jemaat Korintus mengenai pakaian ibadah ini
berlatar belakang pada pandangan tersebut.
Kegagalan menghargai hikmat praktek biasa mengenai
pakaian bisa membawa kepada pelecehan yang lebih serius terhadap kewibawaan dan
kebebasan Kristen, dan merusak tujuan sesungguhnya dari berkumpul bersama dalam
pertemuan liturgi untuk beribadah. Paulus juga menganjurkan damai sejahtera dan
keseimbangan dalam mengatur karunia-karunia roh (1 Korintus 14:1-40), ia
menganjurkan kepada laki-laki dan perempuan berpakaian layak dalam perayaan
liturgi agar dapat membersembahkan kurban yang layak kepada Allah.
Pertama-tama
Paulus memuji jemaat Korintus karena teguh pada tadisi yang telah ia ajarkan,
kemudian Paulus mengingatkan mereka akan kewibawaan sebagai umat Kristus,
kendati masalah berpakaian tidak begitu penting. Peulus menghargai jemaat
Korintus, akan tetapi untuk pelanggaran yang lebih berat dari kasih bahkan
dalam perjamuan Tuhan Paulus tidak memuji mereka: “Dalam peraturan-peraturan
yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak
mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.”
Dalam 1 Korintus ayat 11-12 seolah-oleh Paulus sangat
menekankan Perempuan harus memakai penutup kepala, tetapi pandangan ini
didukung oleh pemikiran akal sehat waktu itu bahwa sebaiknya ada perbedaan cara
berpakaian antara laki-laki dan perempuan. Ini penting pada masa itu sebab umat
Kristus harus berbeda penampilannya dengan orang-orang yang tidak mengenal
Kristus.
Mengapa Perempuan ditekankan harus memanjangkan
rambutnya dan menutup kepada dalam ibadah-ibadah sebagai "tanda"
kewibawaan Allah?Sebab, latar-belakang budaya saat itu, apabila seorang
perempuan tidak menggunakan tutup kepala, artinya ia adalah seorang perempuan
yang "tersedia bagi siapapun", dan perempuan yang memotong rambutnya
itu identik dengan kaum lesbian. Seluruh ayat dalam 1 Korintus 11:2-16
mengemukakan usaha Paulus untuk mengingatkan jemaat di Korintus terhadap
perpecahan, persaingan yang mungkin muncul dalam pertemuan2 ibadah lain yang
tidak dapat diterima oleh jemaat Korintus dalam konteks liturgi.
Ketika umat Kristus perempuan berpakaian layak dengan
tutup kepala sebagai tanda bahwa perempuan itu adalah perempuan baik-baik, maka
perempuan itu tidak bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Unsur
sandungan itu harus dihindari, sebab perempuan memainkan peranan besar dalam ibadah-ibadah
kafir. Dari penjelasan diatas, jelas sekali anjuran untuk menutup kepala bagi
perempuan adalah berkaitan dengan latar belakang budaya masa itu, anjuran itu
justru melindungi kaum perempuan, agar mereka tidak dianggap pelacur karena
kepalanya tidak bertudung dan memanjangkan rambutnya agar tidak dianggap
lesbian.
Kesaksian umat Kristus juga harus diungkapkan secara
lahiriah meskipun ibadah kita menekankan ibadah dalam roh dan kebenaran. Melihat
konteks atau latar belakang dari 1 Korintus 11, apakah nasihat Paulus ini harus
menjadi rujukan pada jemaat di zaman ini ? Tentu saja tidak.. Kita harus
menimbang konteks suatu ayat, apakah hal tersebut ditujukan kepada kita dan harus
kita laksanakan atau bukan.
Banyak contoh dalam Alkitab yang Allah mau kita
"ketahui" namun tidak secara langsung ditujukan kepada kita secara
pribadi. Misalnya hukum Taurat. Hukum Taurat itu ditujukan "langsung"
kepada bangsa Israel (spesifik untuk Israel). Hukum Taurat (Perjanjian Lama)
adalah firman Allah yang diilhamkan sepenuhnya "bagi" umat Kristiani
masa kini, namun bukanlah sebagai perintah Allah yang langsung
"kepada" umat Kristiani. Sebab umat percaya tidak lagi dibawa kuk
Hukum Taurat, karena Hukum Taurat telah digenapi oleh Yesus Kristus. Demikian
pula dalam membaca anjuran yang diberikan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 11
diatas.
Ajaran Rasul Paulus diatas amat berharga bagi orang
Kristen dan kita perlu membaca/merenungkan tentang anjuran itu yang pada saat
itu perlu ditaati oleh jemaat di Korintus, namun itu bukanlah aturan bagi kita
yang hidup dalam budaya yang berbeda dengan jemaat pada zaman itu. Ibadah yang
terpenting adalah dalam Roh dan bukan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah.
Yohanes 4:23-24 mengatakan “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang,
bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran;
sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus
menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Roma 12:1 juga mengatakan “Karena
itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Penampilan
Seperti Apa yang Membuat Cantik?
Orang-orang
atau para artis yang menghirup “udara” industri modeling, tari dan hiburan
layaknya juga olahraga seperti senam, ice skating, dan balapan dituntut keras
untuk memelihara penampilan, bentuk, dan bobot tubuhnya. Melihat mereka akan
membuat kita berusaha untuk mencapai standar yang sama. Tapi hal itu jelas
tidak mungkin. Apakah kita mempunyai waktu untuk berolahraga lima jam sehari?
Pemikiran kita akan berubah ketika kita melihat pada kenyataan bahwa Tuhanlah
yang menciptakan kita dan tidak diharuskan terlihat seperti orang lain.[10]
Tuhan telah memberikan
tubuh untuk kita. Dia betul-betul menginginkan kita sebagai seorang individu,
buka dua tubuh yang benar-benar sama. Bagaimanapun kita memiliki tubuh yang
dibagi dalam tiga kategori utama, yaitu: endomorfosis, mesomorfosis, dan
ektomorfosis. Namun dalam tiga kategori dasar ini, ada jutaan tulang-tulang
yang lebih kecil. Bahu yang menyempit dan pinggul yang melebar, lengan yang
langsing dengan pergelangan kaki yang besar, betis yang langsing dengan kaki
yang lebar, itulah yang dibentuk Tuhan untuk kita. Tidak ada bentuk tubuh yang
benar atau salah. Tiap orang dibentuk sesuai dengan rencana Tuhan. Jadi
penampilan apa yang membuat kita cantik?[11]
Terimalah
Diri Kita yang Tak Terbandingkan
Jika para gadis
membandingkan tubuh mereka dengan orang lain dan memutuskan untuk habis-habisan
mengubah diri mereka atau membentuk kembali diri mereka, mereka akan mengetahui
bahwa tidak ada diet atau olahraga yang bisa mengubah penampilan dasar atau
tipe/jenis tubuh mereka. Para gadis yang terobsesi dan memaksa mengubah bentuk
tubuh secara berlebihan dapat membuat mereka mendeita sakit bulimia.[12]
Tuhan telah
menciptakan tubuh untuk bekerja secara seimbang. Memuntahkan makanan, diuretic,
obat pencahar, olahraga yang dipaksakan, diet dan makan yang berlebihan akan
mengacaukan keseimbangan ini. Hal ini akan membahayakan tubuh kita sendiri.
Kita bisa memilih dan menerima diri kita yang cantik yang telah diciptakan
Tuhan dan bersyukur atas kemampuan unik, talenta dan berkat spiritual yang
telah diberikan Bapamu yang disurga. Kita bisa berfokus pada kebenaran bahwa
kita merupakan anak Tuhan yang dibentukNya dengan sangat sempurna.[13]
Merasa
Cantik Luar dan Dalam
Semua manusia
memiliki lapisan lemak antara kulit dan otot. Ketika tubuh mulai matang saat
dewasa, lapisan lemak tersebut bertambah. Itu hal yang normal. Itu adalah
bentukan Tuhan bagi kita memperoleh bobot pada area yang pinggul dan dada. Salah
satu hal yang dilakukan oleh para gadis adalah mengenakan sesuatu yang ketat
sehingga membuat diri mereka merasa gemuk. Itu tidak normal. Terobsesi untuk
memperbesar atau menyusutkan ukuran tubuh, bukanlah sebuah pemikiran yang.[14]
Kesimpulan
Perkembangan
zaman modern dapat dengan mudah mempengaruhi tata krama berbusana dan bergaul
pada kalanganremaja di Indonesia. Faktor dari pergaulan, lingkungan, dan orang
tuajuga dapat mempengaruhi tata krama berbusana dan bergaul. Saran berdasarkan
pembahasan sebelumnya dapat diajukan beberapa saran yaitu: Seharusnya kalangan
remaja lebih meningkatkan kualitas keimanan, lebih memperhatikan dampak dari
adanya perkembangan zaman serta bisa membedakan teman yang baik dan buruk.
DAFTAR
PUSTAKA
Alkitab. Jakarta:
Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
Godam. www.organisasi.Org. 2010.
Motik , Dewi. Tata Krama Berbusana dan Bergaul. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan,
1991.
Stephen,
Andrea. Glamour Girl. Yogyakarta:
ANDI, 2006.
Tanya jawab
Kristen, http://bet-midrash.blogspot.com.
Godam,
“Etika Dalam Berpakaian” www.
gelorafirman.com.
[1]
Dewi Motik , Tata Krama Berbusana dan Bergaul ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan,
1991), 9.
[2]Ibid
[3]Godam,
“Etika Dalam Berpakaian,” www. gelorafirman.com
[4]
Ibid
[5]
Ibid
[6] Tanya jawab Kristen,
http://bet-midrash.blogspot.com.
[7]Ibid.
[8]Ibid.
[9]Ibid.
[10]Andrea Stephens, Glamour Girl (Yogyakarta: ANDI, 2006),
6.
[11]Ibid.
[12]Ibid., 7.
[13]Ibid., 11.
[14]Ibid., 13.
Bagus cuma tulisannya bikin pucing mbakk...
BalasHapus