CERAI
DAN MENIKAH LAGI
Seperti
kita ketahui perceraian merupakan sebuah pelanggaran yang di buat manusia.
Pelanggaran yang dimaksud adalah melanggar sebuah ketetapan atau visi Allah
terhadap pernikahan. Di sisi lain perceraian sebuah serangan
kepada standar Allah, merupakan penghancuran rencana Allah terhadap pernikahan.
Allah telah mengatur sedemikiaan rupa kepada manusia supaya mereka dapat hidup
dalam pernikahan monogami. Monogami yang dimaksud adalah seseorang hanya boleh
memiliki satu istri atau satu suami.[1]
Pandangan Alkitab Mengenai Pernikahan
Pada
Matius 19 :6 disebutkan “Demikianlah mereka bukan lagi dua ,melainkan.
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan
manusia”. Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya hidup. Akantetapi
jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah
hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Dari kedua ayat tersebut kita dapat
melihat bahwa pasangan Kristen terikat dalam satu komitmen pernikahan monogami
terutama di dalam ayat kedua. Kata lain tidak ada orang kedua, ketiga,dan
lain-lain dalam kehidupan mereka . Walaupun ada permasalahan seberat apapun dan
membuat seseorang berpisah dengan pasangannya.[2]
Ketika
pernikahan dilangsungkan biasanya pasangan suami–istri mengikat janji dihadapan
Tuhan dan jemaat . Mereka telah berjanji dengan sungguh-sungguh untuk
hidup sehidup semati. Hal ini menandakan mereka siap menghadapi situasi yang
teramat buruk dan pelik. Situasi yang dianggap mereka lebih baik berpisah
daripada bersama selamanya. Seperti didalam Amsal 2 : 7” Dan kamu bertanya:
“Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan
isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman
sekutumu dan isteri seperjanjianmu. ”Amsal 2 :14 “ yang
meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya”.
Sesuai ayat ini manusia telah berlaku tidak sesuai dengan yang telah
mereka ikrarkan atau ungkapkan. Mereka sudah merusak janji suci dihadapan Tuhan
yang semestinya dijaga seterusnya.
Pandangan Alkitab Mengenai Perceraian
Terlebih
lagi Allah sangat mengutuk sebuah perceraian dilakukan manusia. Allah tidak
pernah menyetujui perceraian dengan alasan apapun. Terutama berhubungan dengan
orang lain bukan suami / istrinya . Mereka telah berzinah dengan orang lain dan
itu sangat menyakitkan bagi Allah. Allah juga tidak pernah membenarkan adanya
perceraian di dalam kehidupan manusia. Sesungguhnya tidak ada dasar yang tepat
untuk perceraian terlebih berzinah. Zinah adalah sebuah dosa serta munculnya
perkataan perzinahaan sebagai pembenaran perceraian yang memiliki arti
pembenaran untuk perceraian.[3]
Semuanya
itu dinyatakan dalam Lukas 16 : 18 “Setiap orang yang menceraikan isterinya,
lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin
dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah “. Dalam konteks
lain terdapat sebuah perceraian yang bukan memiliki arti perceraian
sesungguhnya, yaitu sebuah pembatalan pernikahan diantara pasangan .
Pembatalannya disebabkan sebuah percabulan bukan perzinahan diantara pasangan
berdua. Pada zaman dahulu bangsa Yahudi menyebut pasangan suami atau istri saat
mereka sudah terikat melalui sebuah pertunagan. Apabila mereka ingin
melakukan pernikahan dan ketahuan oleh pasangannya sudah tidak suci. Sang
pasangan bisa meminta pembatalan pernikahan dan menganggap tidak pernah
pernikahan diantara mereka. Di zaman sekarang pun sama.[4]
Begitu
juga Rasul Paulus tidak mendukung sebuah perceraian tersirat di dalam 1
Korintus 7 : 10 -11 berbunyi demikian “Kepada orang-orang yang telah kawin
aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–perintahkan, supaya seorang isteri tidak
boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap
hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh
menceraikan isterinya”. Ditegaskan ulang, bahwa Paulus menulis didalam
kitab Korintus bukan hanya ia membenci perceraian melainkan Allah juga
sama-sama membenci perceraian.
Paulus
menyarankan untuk seluruh pasangan saling berdamai satu sama lain. Mereka harus
menghilangkan keputusan cerai yang akan di buat. Paulus juga menulis di 1
Korintus 7 :12-13 “kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada
seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau
hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan
kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki
itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki
itu”. Walaupun terkadang pasangan kita bukan orang percaya atau belum
mengenal Yesus. Kita juga tidak boleh menceraikan mereka dengan
seenaknya. Kita harus menjalani pernikahan dengan sebaik-baiknya.[5]
Perceraian
memang sebuah dosa yang diperbuat karena kesalahan manusia . Perceraian bukan
dosa terberat tetapi tetap sebuah dosa yang menodai diri kita sendiri.
Namun kita tidak bisa hanya berdiam diri atau terpaku pada suatu keadaan. Mulailah
kita mencari serta menyembah Allah dengan sepenuh hati . Yakinlah Allah
mampu mengampuni pelanggaran kita. Seperti ayat yang terdapat disebuah alkitab
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan
mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (
1 Yohanes 1:9). ’’ Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun
dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun
berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (
Yesaya 1 :18 ). Ayat ini mengungkapkan seberapa dosa kita Allah mampu
mengampuni pelanggaran tersebut. Sebab dia telah membersihkan dari segala
dosa yang begitu gelap serta membayar kita dengan darahnya menjadi diri setiap
manusia kembali bersih.
Keluarga Sebagai Karunia Allah
Sebuah
keluarga yang dipakai oleh Tuhan sebagai percontohan adalah pada manusia
pertama. Adam dan Hawa yang diciptakan Allah sebagai sepasang suami isteri yang
tidak mengenal poligami dan poliandri (dicatat baik di Alkitab dan tidak
menyatakan pasangan suami istri tersebut pernah bercerai). Kejadian 1:27
"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar
Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Kejadian
2:24b "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya
dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."
Kejadian
5:4 tertulis "Umur Adam setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun,
dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan." Ditekankan lagi pada
Efesus 5:22-23 "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.
Dialah yang menyelamatkan tubuh." Perempuan diibaratkan hormat dan setia
kepada suaminya seperti menghormati Tuhan dan tidak mungkin ada dua Tuhan atau
dua suami (artinya di sini wanita tidak boleh berpoliandri).[6]
Dan
semua pasangan dilarang berkhianat: Maleakhi 2:16 Sebab Aku membenci
perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya
dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah
berkhianat! Hal yang paling jelas adalah di 1 Timotius 3:2 "Karena itu
penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri,
dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar
orang,"
Apapun kesalahan
pasangan kita harusnya kedua pasangan saling berlomba mengatakan kata maaf,
bukan malah menceraikan, sekalipun parahnya kesalahan pasangan kita. Karena
jika kita meceraikan pasangan kita, misal karena alasan pasangan kita
berselingkuh, maka kita membatalkan hukum kasih yang sudah diajarkan oleh Yesus
Kristus. Perceraian karena kematian/maut dianggap sah dan perkawinan kedua
boleh berlangsung dengan batas-batas kewajaran.
Ajaran Paulus Mengenai
Kawin-Cerai-Kawin Lagi
1
Korintus 7 : 1-5: Orang Kristen di Korintus menganggap, untuk menjadi orang
Kristen yang lebih rohani, harus menghindari hubungan seks sama sekali (frase
“Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin” adalah anggapan orang
Korintus, bukan pendapat Paulus). Justru Paulus menolak tegas pandangan seperti
itu, karena bisa membuka pintu bagi perzinahan. Suami isteri harus melakukan
hubungan seks secara tetap, kecuali untuk maksud-maksud tertentu (berdoa).
Sesudah itu harus berhubungan seks secara normal, agar tidak tergoda iblis.[7]
Ayat
6-11: Tentang orang yang pernah kawin, tapi tidak lagi ada dalam ikatan
perkawinan. Paulus ingin semua orang seperti dirinya, tidak kawin lagi – ayat
8, 40 (ada penafsir mengatakan Paulus pernah menikah berdasar 1 Korintus
9:5. Tapi saat menulis 1 Korintus 7 ia memang dalam kondisi tidak
nikah). Ayat 8 “Orang yang tidak kawin” (“agamos” = “tidak kawin sekarang” –
tidak dalam ikatan perkawinan → wanita yang perkawinannya telah bubar (ayat
11). Ini menunjuk isteri yang telah bercerai atau yang suaminya telah meninggal
(janda-janda).
Ayat
11: Kalau isteri cerai dari suaminya, ia harus hidup tanpa suami, atau rujuk
lagi dengan suaminya. Pertanyaannya: berapa lama harus hidup tanpa pasangan?
Banyak yang menafsirkannya sampai mati. Berarti isteri itu tidak boleh kawin
lagi, kecuali suami itu kawin lagi dengan perempuan lain dan berzinah. Yang
dimaksud Paulus ialah: jangan terburu-buru kawin lagi, tetaplah/bertahanlah
dulu dalam keadaan tanpa pasangan.
Boleh Menikah Lagi?
1Korintus
7:27-28: Paulus menegaskan, bahwa kawin lagi bukan dosa. Orang yang
terikat pada istri (terikat dalam perkawinan), jangan cerai. Kalau cerai,
sebaiknya jangan kawin lagi, karena kesulitan-kesulitan yang timbul di Korintus
di masa itu (ayat 26). Tapi kalau kawin lagi, bukan dosa. Ini sesuai dengan
ayat 7-9. Di kalangan gereja ada pandangan umum bahwa pernikahan yang sah hanya
satu kali seumur hidup. Perceraian hidup adalah dosa. Dan jika orang bercerai,
dilarang kawin lagi, karena yang di ijinkan hanya cerai, bukan ijin kawin lagi.
Kawin lagi berarti hidup dalam perzinahan. Kawin ulang hanya direstui bagi
pihak (suami atau isteri) yang tidak bersalah sebagai kemurahan Allah. Ayat
yang biasa di pakai sebagai dasar: Maleakhi 2:16;Matius 5:32; 19:9;
Roma7:1-3; 1 Korintus 7:10-11.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Alkitab. 2010. Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia
2.
White, James F. 2002. Pengantar
Pernikahan Kristen. Jakarta: Gunung Mulia
3.
Sairin, Weinata dan Pattiasina. 1994. Perkawinan dalam
Perspektif Kristen. Jakarta: Gunung Mulia
4.
Tong Stephen. 2006. Keluarga Bahagia. Surabaya : Momentum
5. B.Ward
Powers. Perceraian & Perkawinan
Kembali.
6.
http://mediagbt.org/index.php/2013-08-22-04-12-13/47-kawin-cerai-kawin-lagi
[1]James
F, Pengantar Pernikahan Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 2002), 47.
[2]Weinata Sairin dan Pattiasina, Perkawinan
dalam Perspektif Kristen (Jakarta:
Gunung Mulia, 1994), 27.
[3]B.Ward
Powers, Perceraian & Perkawinan
Kembali ( Surabaya: Momentum, 2003), 47.
[4]Ibid., 48.
[5]Stephen Tong, Keluarga
Bahagia (Surabaya: Momentum, 2006), 33.
[6]Ibid., 35.
[7]http://mediagbt.org/index.php/2013-08-22-04-12-13/47-kawin-cerai-kawin-lagi
Syalom untuk saudari umat kristiani: salam saya dari wanita jawa dan suami saya dari p siantar marga panjaitan, kami telah menikah sah scara kristen dan telah dikaruniai 1seorang anak lelaki, akan tetapi mngp berthn thn aku menikah dgn suamiku jarang terbuka canda tawa dan hanya karena itu aku slalu bertanya tanya pada nya apa ksalahan dan kekurangan hingga suamiku ga mau menjawab nya dan akhir nya aku mrepet ngoceh jadi suamiku pekak dan ga mau dengarkan aku terus aku dianiaya hingga hampir buta mata sbelah kiri saya, saya telah memeluk agama kristen namun suami saya tidak dpt membimbing dan mngajariku untuk slalu ke greja hnya karena ksibukanya dan bnyk alasan nya dan sya sbagai istri hanya mngingatkan kok kristen km ga ke greja hanya aku sja sbagai istri slalu ingatin km untuk ke greja , mengapa km slalu muruk klau aku tanya ,dan suami saya slalu berfikir dan meminta pndapat dgn wanita lain ktimbang menylesaikan rT dgn istri nya baik baik, a berarti suami saya inginkan wanita yg mengertikan keadaan dia dong ,orang istri niat nya baik dia malah memilih mengakhiri berpisah ddgn istri dan ga mikirin kasih sayang anak ny kpd seorg ayah, tega kli lh kami hidup terlantar dan saya sbagai seorang istri slalu berharap suami saya kmbali pada saya dan sya slalu mendoakan agar suami sata jgn jatuh kedalam dosa, karena matius telah mnjelaskan bahwa apa yang telah disatukan tuhan pasutri tidak dapat dipisahkan manusia kcuali kmatian, karena aku mengikuti ajaran tuhan dan suami saya slalu saja berpoligami untuk mencoba membuka hati pada wanita lain ...ya bapa mengapa hidup bisa makan minum dan punya rejeki setidak nya ga banyak kami pun bahagia hidup dalam lindunganmu tapi mengapa apa yg kami rasakan dari indah tapi dari manusia sakit itulh yg ingin aku sampaikan, ...Thanks
BalasHapus